Dalam satu kesempatan, di e-mail saya membahas tentang kenapa Indonesia bisa krisi energi sementara Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor energi? Aneh tapi benar-benar fakta...
Sebagian Besar Energi Diekspor - Energi Indonesia untuk Siapa?
Di bawah ini berbagai artikel yang mengungkap bagaimana Indonesia yang dilanda krisis energi justru merupakan eksportir besar di bidang energi.
Meski rakyat kesulitan mendapatkan energi seperti harus antri minyak tanah berjam-jam, BBM juga sering antri, PLN sering padam (bahkan di Jakarta tadi malam 26 April 2008 padam cukup lama selama berjam-jam) pabrik dan juga pengusaha transportasi merugi karena BBM naik, toh Indonesia merupakan eksportir minyak mentah terbesar di kawasan Australasia. Dari produksi 977 ribu bph (turun dari 1,3 juta bph), 500 ribu bph diekspor. Lebih separuh minyak yang kita produksi diekspor ke luar negeri.
Indonesia juga merupakan eksportir LNG terbesar di dunia. Indonesia mengekspor 70% produk batubara. Energi tersebut diekspor ke Jepang, Korsel, Taiwan, dsb.
Tak heran jika negara-negara yang tak punya minyak tersebut pabrik-pabrik dan industrinya tetap berkembang sementara pabrik-pabrik di Indonesia banyak yang tutup kekurangan energi atau bangkrut karena energi sudah tak terbeli lagi.
Jika sudah begitu, seperti judul artikel Kompas, Energi Indonesia untuk siapa?
http://infoindonesi a.wordpress. com/2008/ 04/28/energi- indonesia- untuk-siapa/
Energi Indonesia untuk Siapa?
Kompas. Di Tokyo, Presiden Yudhoyono mengumumkan Indonesia tetap akan meneruskan kontrak ekspor gas ke Negeri Sakura.
Kontrak pengiriman gas alam cair ke Jepang yang dimulai sejak 1971 berakhir pada 2010-2011.
Saat yang sama ketika Presiden berada di Jepang, terjadi kelangkaan minyak tanah di Jakarta. Ibu-ibu harus mengantre berjam-jam di pangkalan demi memperoleh jatah 2-3 liter minyak tanah. Produk ini di pasar internasional disebut kerosin, dan kerosin murni dipakai sebagai bahan bakar pesawat jet sehingga harganya sangat mahal. Di Indonesia, kerosin digunakan untuk menyalakan kompor dan dipakai untuk oplosan mesin motor nelayan yang tidak mampu membeli solar.
Setahun terakhir, warga Medan mengalami pemadaman bergilir tiga kali sehari, persis seperti jadwal makan obat, karena krisis pasokan listrik yang sangat parah di Sumatera Utara. Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap Sicanang di Belawan yang menjadi pemasok utama listrik di kota itu sudah lama tak mampu beroperasi maksimal karena pasokan gas terus menurun. Dengan kondisi keuangan yang terbatas, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) tidak sanggup membakar bahan bakar minyak lebih banyak untuk menggantikan gas.
Potongan-potongan fakta di atas jika direkatkan menjadi potret kekisruhan kebijakan pemanfaatan energi nasional. Indonesia belum bisa lepas dari kutukan sebagai negeri yang memiliki sumber daya alam melimpah, tetapi gagal memanfaatkan sumber daya itu sebaik-baiknya untuk menyejahterakan masyarakat. Penyebabnya adalah ketidakmampuan pengelolaan energi nasional oleh pemerintah.
Dari segi cadangan energi, Indonesia memiliki batu bara yang bisa diproduksi sebanyak 19,3 miliar ton, cadangan gas 182 triliun kaki kubik, dan cadangan minyak mentah 8 miliar barrel. Dari jumlah itu, jika tidak ada eksplorasi untuk menemukan cadangan baru batu bara hanya cukup untuk 147 tahun, gas bertahan hanya untuk 61 tahun, bahkan minyak bumi hanya mampu bertahan untuk kebutuhan 8 tahun.
Produksi batu bara Indonesia tahun ini 153,7 juta ton dan sekitar 70 persen diekspor. Produksi minyak bumi, termasuk kondensat, tahun ini diproyeksikan kurang dari 1 juta barrel per hari dan sekitar 500.000 barrel diekspor. Produksi gas alam Indonesia tahun 2005 tercatat 8,13 miliar kaki kubik per hari dan sekitar 58,4 persen diekspor dalam bentuk gas alam cair (liquefied natural gas/LNG), elpiji, dan melalui pipa.
http://www.plnjaya.co.id/berita/berita_peristiwa.asp?do=view&id=2909&idm=5&idSM=1
