Aku Tidak Lebih Dulu ke Surga

Posted by welly in Article Religion, Self Development
16
Apr
2008
Tgl. publikasi: 9/7/2001 14:18 WIB
eramuslim - Aku tidak tahu dimana berada. Meski sekian banyak manusia berada disekelilingku, namun aku tetap merasa sendiri dan ketakutan. Aku masih bertanya dan terus bertanya, tempat apa ini, dan buat apa semua manusia dikumpulkan. Mungkinkah, ah… aku tidak mau mengira-ngira.

Rasa takutku makin menjadi-jadi, tatkala seseorang yang tidak pernah kukenal sebelumnya mendekati dan menjawab pertanyaan hatiku. “Inilah yang disebut Padang Mahsyar,” suaranya begitu menggetarkan jiwaku.

“Bagaimana ia bisa tahu pertanyaanku,” batinku.

Aku menggigil, tubuhku terasa lemas, mataku tegang mencari perlindungan dari seseorang yang kukenal. Kusaksikan langit menghitam, sesaat kemudian bersinar kemilauan. Bersamaan dengan itu, terdengar suara menggema. Aku baru sadar, inilah hari penentuan, hari dimana semua manusia akan menerima keputusan akan balasan dari amalnya selama hidup didunia. Hari ini pula akan ditentukan nasib manusia selanjutnya, surgakah yang akan dinikmati atau adzab neraka yang siap menanti.

Aku semakin takut. Namun ada debar dalam dadaku mengingat amal-amal baikku didunia. Mungkinkah aku tergolong orang-orang yang mendapat kasih-Nya atau jangan-jangan…Aku dan semua manusia lainnya masih menunggu keputusan dari Yang menguasai hari pembalasan.

Tak lama kemudian, terdengar lagi suara menggema tadi yang mengatakan, bahwa sesaat lagi akan dibacakan daftar manusia-manusia yang akan menemani Rasulullah SAW di surga yang indah.

Lagi-lagi dadaku berdebar, ada keyakinan bahwa namaku termasuk dalam daftar itu, mengingat banyaknya infaq yang aku sedekahkan. Terlebih lagi, sewaktu didunia aku dikenal sebagai juru dakwah. “Kalaulah banyak orang yang kudakwahi masuk surga, apalagi aku,” pikirku mantap.

Akhirnya, nama-nama itupun mulai disebutkan. Aku masih beranggapan bahwa namaku ada dalam deretan penghuni surga itu, mengingat ibadah-ibadah dan perbuatan-perbuatan baikku. Dalam daftar itu, nama Rasulullah Muhammad SAW sudah pasti tercantum pada urutan teratas, sesuai janji Allah melalui Jibril, bahwa tidak satupun jiwa yang masuk kedalam surga sebelum Muhammad SAW masuk.

Setelah itu tersebutlah para Assabiquunal Awwaluun. Kulihat Fatimah Az Zahra dengan senyum manisnya melangkah bahagia sebagai wanita pertama yang ke surga, diikuti para istri-istri dan keluarga rasul lainnya. Para nabi dan rasul Allah lainnya pun masuk dalam daftar tersebut.

Yasir dan Sumayyah berjalan tenang dengan predikat Syahid dan syahidah pertama dalam Islam. Juga para sahabat lainnya, satu persatu para pengikut terdahulu Rasul itu dengan bangga melangkah ke tempat dimana Allah akan membuka tabirnya. Yang aku tahu, salah satu kenikmatan yang akan diterima para penghuni surga adalah melihat wajah Allah.

Kusaksikan para sahabat Muhajirin dan Anshor yang tengah bersyukur mendapatkan nikmat tiada terhingga sebagai balasan kesetiaan berjuang bersama Muhammad menegakkan risalah. Setelah itu tersebutlah para mukminin terdahulu dan para syuhada dalam berbagai perjuangan pembelaan agama Allah.

Sementara itu, dadaku berdegub keras menunggu giliran. Aku terperanjat begitu melihat rombongan anak-anak yatim dengan riang berlari untuk segera menikmati kesegaran telaga kautsar. Beberapa dari mereka tersenyum sambil melambaikan tangannya kepadaku. Sepertinya aku kenal mereka. Ya Allah, mereka anak-anak yatim sebelah rumahku yang tidak pernah kuperhatikan. Anak-anak yang selalu menangis kelaparan dimalam hari sementara sering kubuang sebagian makanan yang tak habis kumakan.

“Subhanallah, itu si Parmin tukang mie dekat kantorku,” aku terperangah melihatnya melenggang ke surga. Parmin, pemuda yang tidak pernah lulus SD itu pernah bercerita, bahwa sebagian besar hasil dagangnya ia kririmkan untuk ibu dan biaya sekolah empat adiknya. Parmin yang rajin sholat itu, rela berpuasa berhari-hari asal ibu dan adik-adiknya di kampung tidak kelaparan.

Tiba-tiba, orang yang sejak tadi disampingku berkata lagi, “Parmin yang tukang mie itu lebih baik dimata Allah. Ia bekerja untuk kebahagiaan orang lain.” Sementara aku, semua hasil keringatku semata untuk keperluanku.

Lalu berturut-turut lewat didepan mataku, mbok Darmi penjual pecel yang kehadirannya selalu kutolak, pengemis yang setiap hari lewat depan rumah dan selalu mendapatkan kata “maaf” dari bibirku dibalik pagar tinggi rumahku. Orang disampingku berbicara lagi seolah menjawab setiap pertanyaanku meski tidak kulontarkan, “Mereka ihklas, tidak sakit hati serta tidak memendam kebencian meski kau tolak.”

Masya Allah … murid-murid pengajian yang aku bina, mereka mendahuluiku ke surga. Setelah itu, berbondong-bondong jama’ah masjid-masjid tempat biasa aku berceramah. “Mereka belajar kepadamu, lalu mereka amalkan. Sedangkan kau, terlalu banyak berbicara dan sedikit mendengarkan. Padahal, lebih banyak yang bisa dipelajari dengan mendengar dari pada berbicara,” jelasnya lagi.

Aku semakin penasaran dan terus menunggu giliranku dipanggil. Seiring dengan itu antrian manusia-manusia dengan wajah ceria, makin panjang. Tapi sejauh ini, belum juga namaku terpanggil.

Aku mulai kesal, aku ingin segera bertemu Allah dan berkata, “Ya Allah, didunia aku banyak melakukan ibadah, aku bershodaqoh, banyak membantu orang lain, banyak berdakwah, izinkan aku ke surgaMu”.

Orang dengan wajah bersinar disampingku itu hendak berbicara lagi, aku ingin menolaknya. Tetapi, tanganku tak kuasa menahannya untuk berbicara. “Ibadahmu bukan untuk Allah, tapi semata untuk kepentinganmu mendapatkan surga Allah, shodaqohmu sebatas untuk memperjelas status sosial, dibalik bantuanmu tersimpan keinginan mendapatkan penghargaan, dan dakwah yang kau lakukan hanya berbekas untuk orang lain, tidak untukmu,” bergetar tubuhku mendengarnya.

Anak-anak yatim, Parmin, mbok Darmi, pengemis tua, murid-murid pengajian, jama’ah masjid dan banyak lagi orang-orang yang sering kuanggap tidak lebih baik dariku, mereka lebih dulu ke surga Allah. Padahal, aku sering beranggapan, surga adalah balasan yang pantas untukku atas dakwah yang kulakukan, infaq yang kuberikan, ilmu yang kuajarkan dan perbuatan baik lainnya. Ternyata, aku tidak lebih tunduk dari pada mereka, tidak lebih ikhlas dalam beramal dari pada mereka, tidak lebih bersih hati dari pada mereka, sehingga aku tidak lebih dulu ke surga dari mereka.

Jam dinding berdentang tiga kali. Aku tersentak bangun dan, astaghfirullah…, ternyata Allah telah menasihatiku lewat mimpi malam ini. (bay)

Cintai Apapun Pekerjaan Anda

Posted by welly in My Journey, Self Development
16
Apr
2008
Oleh: NN

Bila anda tak mencintai pekerjaan anda, maka cintailah orang-orang yang bekerja di sana. Rasakan kegembiraan dari pertemanan itu. Dan, pekerjaan pun jadi menggembirakan.

Bila anda tak bisa mencintai rekan-rekan kerja anda, maka cintailah suasana dan gedung kantor anda. Ini mendorong anda untuk bergairah berangkat kerja dan melakukan tugas-tugas dengan lebih baik lagi.

Bila toh anda juga tidak bisa melakukannya, cintai setiap pengalaman pulang pergi dari dan ke tempat kerja anda. Perjalanan yang menyenangkan menjadikan tujuan tampak menyenangkan juga.

Namun, bila anda tak menemukan kesenangan di sana, maka cintai apa pun yang bisa anda cintai dari kerja anda: tanaman penghias meja, cicak di atas dinding, atau gumpalan awan dari balik jendela. Apa saja...

Bila anda tak menemukan yang bisa anda cintai dari pekerjaan anda, maka mengapa anda ada di situ? Tak ada alasan bagi anda untuk tetap bertahan. Cepat pergi dan carilah apa yang anda cintai, lalu bekerjalah di sana....

Hidup hanya sekali. Tak ada yang lebih indah selain melakukan dengan rasa cinta yang tulus.

Maaf karena ku tidak cukup lebih…

Posted by welly in My Journey
12
Apr
2008
Hari ini, tanggal 12 April merupakan hari kelahiranku...Malam ini, merupakan hari kesekian kali diam terpaku...Aku membuka lembaran memori di kepala....

April tahun lalu, 2007...Betapa aku tersudutkan oleh duniaku sendiri...Dunia yang aku sendiri sangat menghargai...Tapi, 2007...Aku pergi...Aku biarkan mereka berkata...Aku hanya ingin bermurah hati terhadap mereka yang hanya bisa bicara...Biar saja mereka bicara semau mulut mereka...karena lidah memang tidak bertulang...karena lidah memang pandai menari memahat kata...DAN LIDAH PULA YANG MEMBUAT SAYATAN TAJAM LEBIH MENYAKITKAN DARIPADA SEMBILU...K*?, y, K*?...Maafkan aku yang tidak lebih baik dari orang yang menjatuhkanku dengan setiap perkataan yang hanya bisa terucap tanpa pernah bisa bertindak...

Kini, 2008...Betapa kaget aku...LIDAH itu, menelan perkataannya dan "maaf" ludahnya sendiri atas semua kata-kata yang terucap menyerangku...Menikam...Membunuh...tanpa pernah ingat kalau kita "katanya" adalah SATU...Sementara aku selalu selalu dan selalu diingatkan kalau "KITA SAUDARA"...

Kini kutarik kembali perkataanku sebelumnya...AKU MENANG!!!...AKU LEBIH BAIK DARIPADA SETAN BERBENTUK LIDAH YANG MENDEKAM DALAM MULUTMU YANG DAHULU MENYERANGKU...BERKACALAH SAUDARAKU...APA YANG DULU KAU KATAKAN KEPADAKU SAMPAI-SAMPAI AKU "KAU USIR" HANYA KARENA AKU "SALAH" MENURUT KALIAN...MAAF AKU EMOSI....

Cukup, cukup sudah aku tidak akan berbicara lebih banyak karena aku tau semakin aku lanjutkan tulisan ini akan semakin membuka lebar ruang bagi setan untuk masuk menguasai...AKU MUNGKIN TIDAK LEBIH BAIK DARIMU...-tidak masalah kalau memang begitu-...AKU MEMANG HANYA SEORANG BIASA YANG SEDAN GBERUSAHA MEMAHAMI JALAN HIDUPKU...TAPI AKU LEBIH BISA MENGENDALIKAN DAN MENJAGA APA YANG AKU BICARAKAN DAN PERBUAT...AKU MUNGKIN TIDAK LEBIH BAIK DARIMU...TAPI AKU JAUH LEBIH TERHORMAT DARI KAMU...AKU MENGAKUI SEMUA KESALAHAN APAPUN YANG DITUDUHKAN...KARENA AKU MEMANG SANGAT JAUH DARI SEMPURNA...TAPI AKU JAUH LEBIH MENGHARGAI ORANG LAIN JAUH DARI PADA KAMU YANG "MENGHARGAI" AKU DENGAN MENCABIK, MENGHARDIK, MENCELA ATAU APAPUN ITU TERHADAP DIRIKU...

SEBENARNYA AKU HANYA INGIN BERKATA:
"MAAF AKU TIDAK LEBIH BAIK DARIMU TETAPI AKU JAUH LEBIH TERHORMAT DARI KAMU..."

Akhir kata, Maafkan aku saudaraku...Aku hanya berusaha mengingatkanmu dengan lebih hati-hati, jauh dari tiap kata dan tindakan yang dulu pernah kau lakukan padaku...Tidak ada maksud dendam apapun dalam hatiku...Toh Aku tidak lebih baik dari kamu...Hanya saja aku Jauh Lebih Terhormat...

Ps: It's not about revenge, just a little disconfort about conditions that you hav done...

PC MAV 1.1 Plus ClamAV

Posted by welly in Tutorial
07
Apr
2008
Cuy, dah tau blom klo PC MAV kamu bakal lebih ampuh klo digabungin sama ClamAV? Klo belom, coba deh neh, tinggal download aja punya ane... Udah tinggal Extract/Unzip trus jalanin deh PCMAV-nya...Liat deh berapa virus yang sanggup PCMAV kita tanganin? Lebih GUEDE kan? Sekitar 245.000 ribu jenis virus dari dalam atau luar negeri. Untuk update hariannya, kamu tinggal buka web clamav.net disitu ada update perhari sama update file utama yang bisa kamu download. Untuk file utama cukup satu bulan sekali kamu updatenya. Oke deh, selamat mencoba...
Oh ya, kalau kamu mendownload file tersebut, kamu berarti sudah baca pernyataan berikut ini dan otomatis setuju dengan pernyataan berikut ini:

PCMAV tidak dinyatakan sebagai program yang bersifat public-domain (milik publik) maupun freeware (tanpa biaya), tetapi Anda bebas menggunakan dan menyebarluaskan program ini secara UTUH dan LENGKAP (termasuk file README.TXT ini) tanpa dikenakan biaya apapun sepanjang PCMAV tidak disertakan bersama dengan materi yang melanggar hukum dan ketentuan program seperti yang akan dijelaskan pada bagian ini ditaati.

PCMAV dan seluruh program antivirus buatan Majalah PC Media diizinkan untuk pemakaian tunggal oleh pemilik Majalah PC Media pada edisi yang menyertakannya, baik itu pemilik perorangan maupun badan hukum pada satu lokasi. Selain itu, program ini juga diizinkan untuk pemakaian di komputer pribadi/rumah, lembaga nirlaba atau lembaga pendidikan yang dibiayai oleh negara/lembaga nirlaba.

DILARANG KERAS MENGGUNAKAN DAN ATAU MEMANFAATKAN PCMAV VERSI INI DI SEBUAH LOKASI LINGKUNGAN BISNIS ATAU YANG BERORIENTASI PROFIT TANPA MEMILIKI SECARA SAH EDISI MAJALAH PC MEDIA YANG MEMUAT RILIS PCMAV YANG DIMAKSUD.