Loeckm4n

Blog.unila.ac.id weblog

Nov
05
Posted by lukman

Pendidikan Anak Dalam Islam

Dan orang-orang yang berkata : “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari isteri-isteri kami dan keturunan kami kesenangan hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”
( QS. Al-Furqan : 74 )
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
(QS. At Tahrim: 6 ).
“Apabila manusia mati maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu bermanfaat, atau anak shaleh yang mendo’akannya.”
(HR. Muslim, dari Abu Hurairah)

PENDAHULUAN
Segala puji milik Allah Tuhan semesta alam.
Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasul termulia, kepada keluarga dan para sahabatnya.
Seringkali orang mengatakan: “Negara ini adikuasa, bangsa itu mulia dan kuat, tak ada seorangpun yang berpikir mengintervensi negara tersebut atau menganeksasinya karena kedigdayaan dan keperkasaannya” .
Dan elemen kekuatan adalah kekuatan ekonomi, militer, teknologi dan kebudayaan. Namun, yang terpenting dari ini semua adalah kekuatan manusia, karena manusia adalah sendi yang menjadipusat segala elemen kekuatan lainnya. Tak mungkin senjata dapat dimanfaatkan, meskipun canggih, bila tidak ada orang yang ahli dan pandai menggunakannya. Kekayaan, meskipun melimpah, akan menjadi mubadzir tanpa ada orang yang mengatur dan mendaya-gunakannya untuk tujuan-tujuan yang bermanfaat.
Dari titik tolak ini, kita dapati segala bangsa menaruh perhatian terhadap pembentukan individu, pengembangan sumber daya manusia dan pembinaan warga secara khusus agar mereka menjadi orang yang berkarya untuk bangsa dan berkhidmat kepada tanah air.
Sepatutnya umat Islam memperhatikan pendidikan anak dan pembinaan individu untuk mencapai predikat “umat terbaik”, sebagaimana dinyatakan Allah ‘Azza Wa lalla dalam firman-Nya:

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dariyang munkar… “. (Surah Ali Imran : 110).
Dan agar mereka membebaskan diri dari jurang dalam yang mengurung diri mereka, sehingga keadaan mereka dengan umat lainnya seperti yang beritakan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam :
“Hampir saja umat-umat itu mengerumuni kalian bagaikan orang-orang yang sedang makan berkerumun disekitar nampan.”. Ada seorang yang bertanya: “Apakah karena kita berjumlah sedikit pada masa itu?” Jawab beliau: “Bahkan kalian pada masa itu berjumlah banyak, akan tetapi kalian bagaikan buih air bah. Allah niscaya mencabut dari hati musuh kalian rasa takut kepada kalian, dan menanamkan rasa kelemahan dalam dada kalian”. Seorang bertanya: “Ya Rasulullah, apakah maksud kelemahan itu?” Jawab beliau: “Yaitu cinta kepada dunia dan enggan mati”.

PERANAN KELUARGA DALAM ISLAM
Keluarga mempunyai peranan penting dalam pendidikan, baik dalam lingkungan masyarakat Islam maupun non-Islam. Karerena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggota-anggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikan anak, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupanya (usia pra-sekolah). Sebab pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas, sehingga tak mudah hilang atau berubah sudahnya.
Dari sini, keluarga mempunyai peranan besar dalam pembangunan masyarakat. Karena keluarga merupakan batu pondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan personil-personilnya.
Musuh-musuh Islam telah menyadari pentingya peranan keluarga ini. Maka mereka pun tak segan-segan dalam upaya menghancurkan dan merobohkannya. Mereka mengerahkan segala usaha ntuk mencapai tujuan itu. Sarana yang mereka pergunakan antara lain:

1. Merusak wanita muslimah dan mempropagandakan kepadanya agar meninggallkan tugasnya yang utama dalam menjaga keluarga dan mempersiapkan generasi.

2. Merusak generasi muda dengan upaya mendidik mereka di tempat-tempat pengasuhan yang jauh dari keluarga, agar mudah dirusak nantinya.

3. Merusak masyarakat dengan menyebarkan kerusakan dan kehancuran, sehingga keluarga, individu dan masyarakat seluruhnya dapat dihancurkan.

Sebelum ini, para ulama umat Islam telah menyadari pentingya pendidikan melalui keluarga. Syaikh Abu Hamid Al Ghazali ketika membahas tentang peran kedua orangtua dalam pendidikan mengatakan: “Ketahuilah, bahwa anak kecil merupakan amanat bagi kedua orangtuanya. Hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong kepada apa saja yang disodorkan kepadanya Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan dia akan tumbuh dalam kebaikan dan berbahagialah kedua orang tuanya di dunia dari akherat, juga setiap pendidik dan gurunya. Tapi jika dibiasakan kejelekan dan dibiarkan sebagai mana binatang temak, niscaya akan menjadi jahat dan binasa. Dosanya pun ditanggung oleh penguru dan walinya. Maka hendaklah ia memelihara mendidik dan membina serta mengajarinya akhlak yang baik, menjaganya dari teman-teman jahat, tidak membiasakannya bersenang-senang dan tidak pula menjadikannya suka kemewahan, sehingga akan menghabiskan umurnya untuk mencari hal tersebut bila dewasa.”

TUJUAN PENDIDIKAN DALAM ISLAM
Banyak penulis dan peneliti membicarakan tentang tujuan pendidikan individu muslim. Mereka berbicara panjang lebar dan terinci dalam bidang ini, hal yang tentu saja bermanfaat. Apa yang mereka katakan kami ringkaskan sebagai berikut:
” Nyatalah bahwa pendidikan individu dalam islam mempunyai tujuan yang jelas dan tertentu, yaitu: menyiapkan individu untuk dapat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tak perlu dinyatakan lagi bahwa totalitas agama Islam tidak membatasi pengertian ibadah pada shalat, shaum dan haji; tetapi setiap karya yang dilakukan seorang muslim dengan niat untuk Allah semata merupakan ibadah.” (Aisyah Abdurrahman Al Jalal, Al Mu’atstsirat as Salbiyah fi Tarbiyati at Thiflil Muslim wa Thuruq ‘Ilajiha, hal. 76.

MEMPERHATIKAN ANAK SEBELUM LAHIR
Perhatian kepada anak dimulai pada masa sebelum kelahirannya, dengan memilih isteri yang shalelhah, Rasulullah SAW memberikan nasehat dan pelajaran kepada orang yang hendak berkeluarga dengan bersabda :
” Dapatkan wanita yang beragama, (jika tidak) niscaya engkau merugi” (HR.Al-Bukhari dan Muslim)
Begitu pula bagi wanita, hendaknya memilih suami yang sesuai dari orang-orang yang datang melamarnya. Hendaknya mendahulukan laki-laki yang beragama dan berakhlak. Rasulullah memberikan pengarahan kepada para wali dengan bersabda :
“Bila datang kepadamu orang yang kamu sukai agama dan akhlaknya, maka kawikanlah. Jika tidak kamu lakukan, nisacayaterjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar”
Termasuk memperhatikan anak sebelum lahir, mengikuti tuntunan Rasulullah dalam kehidupan rumah tangga kita. Rasulullah memerintahkan kepada kita:
“Jika seseorang diantara kamu hendak menggauli isterinya, membaca: “Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami”. Maka andaikata ditakdirkan keduanya mempunyai anak, niscaya tidak ada syaitan yang dapat mencelakakannya”.

MEMPERHATIKAN ANAK KETIKA DALAM KANDUNGAN
Setiap muslim akan merasa kagum dengan kebesaran Islam. Islam adalah agama kasih sayang dan kebajikan. Sebagaimana Islam memberikan perhatian kepada anak sebelum kejadiannya, seperti dikemukakan tadi, Islam pun memberikan perhatian besar kepada anak ketika masih menjadi janin dalam kandungan ibunya. Islam mensyariatkan kepada ibu hamil agar tidak berpuasa pada bulan Ramadhan untuk kepentingan janin yang dikandungnya. Sabda Rasulullah :
“Sesungguhnya Allah membebaskan separuh shalat bagi orang yang bepergian, dan (membebaskan) puasa bagi orang yang bepergian, wanita menyusui dan wanita hamil” (Hadits riwayat Abu Dawud, At Tirmidzi dan An Nasa’i. Kata Al Albani dalam Takhrij al Misykat: “Isnad hadits inijayyid’ )
Sang ibu hendaklah berdo’a untuk bayinya dan memohon kepada Allah agar dijadikan anak yang shaleh dan baik, bermanfaat bagi kedua orangtua dan seluruh kaum muslimin. Karena termasuk do’a yang dikabulkan adalah do’a orangtua untuk anaknya.
MEMPERHATIKAN ANAK SETELAH LAHIR
Setelah kelahiran anak, dianjurkan bagi orangtua atau wali dan orang di sekitamya melakukan hal-hal berikut:

1. Menyampaikan kabar gembira dan ucapan selamat atas kelahiran.
Begitu melahirkan, sampaikanlah kabar gembira ini kepada keluarga dan sanak famili, sehingga semua akan bersuka cita dengan berita gembira ini. Firman Allah ‘Azza Wa Jalla tentang kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam bersama malaikat:
“Dan isterinya berdiri (di balik tirai lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari lshaq (akan lahir puteranya) Ya ‘qub. ” (Surah Hud : 71).
Dan firman Allah tentang kisah Nabi Zakariya ‘Alaihissalam:
“Kemudian malaikat Jibril memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah mengembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu ) Yahya ” (Ali Imran: 39).
Adapun tahni’ah (ucapan selamat), tidak ada nash khusus dari Rasul dalam hal ini, kecuali apa yang disampaikan Aisyah Radhiyallahu ‘Anha:
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam apabila dihadapkan kepada beliau anak-anak bayi, maka beliau mendo’akan keberkahan bagi mereka dan mengolesi langit-langit mulutnya (dengan korma atau madu )” ( Hadits riwayat Muslim dan Abu Dawud).
Abu Bakar bin Al Mundzir menuturkan: Diriwayatkan kepada kami dari Hasan Basri, bahwa seorang laki-laki datang kepadanya sedang ketika itu ada orang yang baru saja mendapat kelahiran anaknya. Orang tadi berkata: Penunggang kuda menyampaikan selamat kepadamu. Hasan pun berkata: Dari mana kau tahu apakah dia penunggang kuda atau himar? Maka orang itu bertanya: Lain apa yang mesti kita ucapkan. Katanya: Ucapkanlah:
“Semoga berkah bagimu dalam anak, yang diberikan kepadamu, Kamu pun bersyukur kepada Sang Pemberi, dikaruniai kebaikannya, dan dia mencapai kedewasaannya” ( Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Tuhfatul fi Ahkamil Maulud.)

2. Menyerukan adzan di telinga bayi.
Abu Rafi’ Radhiyallahu ‘Anhu menuturkan:
“Aku melihat Rasulullah memperdengarkan adzan pada telinga Hasan bin Ali ketika dilahirkan Fatimah” ( Hadits riwayat Abu Dawud dan At Tirmidzi.
Hikmahnya, Wallahu A’lam, supaya adzan yang berisi pengagungan Allah dan dua kalimat syahadat itu merupakan suara yang pertama kali masuk ke telinga bayi. Juga sebagai perisai bagi anak, karena adzan berpengaruh untuk mengusir dan menjauhkan syaitan dari bayi yang baru lahir, yang ia senantiasa berupaya untuk mengganggu dan mencelakakannya. Ini sesuai dengan pemyataan hadits:
” Jika diserukan adzan untuk shalat, syaitan lari terbirit-birit dengan mengeluarkan kentut sampai tidak mendengar seruan adzan” (Ibid)

3. Tahnik (Mengolesi langit-langit mulut).
Termasuk sunnah yang seyogianya dilakukan pada saat menerima kelahiran bayi adalah tahnik, yaitu melembutkan sebutir korma dengan dikunyah atau menghaluskannya dengan cara yang sesuai lalu dioleskan di langit-langit mulut bayi. Caranya,dengan menaruh sebagian korma yang sudah lembut di ujung jari lain dimasukkan ke dalam mulut bayi dan digerakkan dengan lembut ke kanan dan ke kiri sampai merata. Jika tidak ada korma, maka diolesi dengan sesuatu yang manis (seperti madu atau gula). Abu Musa menuturkan:
“Ketika aku dikaruniai seorang anak laki-laki, aku datang kepada Nabi, maka beliau menamainya Ibrahim, mentahniknya dengan korma dan mendo’akan keberkahan baginya, kemudian menyerahkan kepadaku”.
Tahnik mempunyai pengaruh kesehatan sebagaimana dikatakan para dokter. Dr. Faruq Masahil dalam tulisan beliau yang dimuat majalah Al Ummah, Qatar, edisi 50, menyebutkan: “Tahnik dengan ukuran apapun merupakan mu’jizat Nabi dalam bidang kedokteran selama empat belas abad, agar umat manusia mengenal tujuan dan hikmah di baliknya. Para dokter telah membuktikan bahwa semua anak kecil (terutama yang baru lahir dan menyusu) terancam kematian, kalau terjadi salah satu dari dua hal:
a. Jika kekurangan jumlah gula dalam darah (karena kelaparan).
b. Jika suhu badannya menurun ketika kena udara dingin di sekelilingnya.”‘

4. Memberi nama.
Termasuk hak seorang anak terhadap orangtua adalah memberi nama yang baik. Diriwayatkan dari Wahb Al Khats’ami bahwa Rasulullah bersabda:
” Pakailah nama nabi-nabi, dan nama yang amat disukai Allah Ta’ala yaitu Abdullah dan Abdurrahman, sedang nama yang paling manis yaitu Harits dan Hammam, dan nama yang sangat jelek yaitu Harb dan Murrah” ( HR.Abu Daud An Nasa’i)
Pemberian nama merupakan hak bapak.Tetapi boleh baginya menyerahkan hal itu kepada ibu. Boleh juga diserahkan kepada kakek, nenek,atau selain mereka.
Rasulullah merasa optimis dengan nama-nama yang baik. Disebutkan Ibnul Qayim dalam Tuhfaful Wadttd bi Ahkami Maulud, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam tatkala melihat Suhail bin Amr datang pada hari Perjanjian Hudaibiyah beliau bersabda: “Semoga mudah urusanmu”
Dalam suatu perjalanan beliau mendapatkan dua buah gunung, lain beliau bertanya tentang namanya. Ketika diberitahu namanya Makhez dan Fadhih, beliaupun berbelok arah dan tidak melaluinya.( Ibnu Qayim Al Jauziyah, Tuhfatul Wadud, hal. 41.)
Termasuk tuntunan Nabi mengganti nama yang jelek dengan nama yang baik. Beliau pernah mengganti nama seseorang ‘Ashiyah dengan Jamilah, Ashram dengan Zur’ah. Disebutkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunan :”Nabi mengganti nama ‘Ashi, ‘Aziz, Ghaflah, Syaithan, Al Hakam dan Ghurab. Beliau mengganti nama Syihab dengan Hisyam, Harb dengan Aslam, Al Mudhtaji’ dengan Al Munba’its, Tanah Qafrah (Tandus) dengan Khudrah (Hijau), Kampung Dhalalah (Kesesatan) dengan Kampung Hidayah (Petunjuk), dan Banu Zanyah (Anak keturunan haram) dengan Banu Rasydah (Anak keturunan balk).” (Ibid)

5. Aqiqah.
Yaitu kambing yang disembelih untuk bayi pada hari ketujuh dari kelahirannya. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Salman bin Ammar Adh Dhabbi, katanya: Rasulullah bersabda:
“Setiap anak membawa aqiqah, maka sembelihlah untuknya dan jauhkanlah gangguan darinya” (HR. Al Bukhari.)
Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha,bahwaRasulullah bersabda:
“Untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang sebanding, sedang untuk anak perempuan seekor kambing” (HR. Ahmad dan Turmudzi).
Aqiqah merupakah sunnah yang dianjurkan. Demikian menurut pendapat yang kuat dari para ulama. Adapun waktu penyembelihannya yaitu hari ketujuh dari kelahiran. Namun, jika tidak bisa dilaksanakan pada hari ketujuh boleh dilaksanakan kapan saja, Wallahu A’lam.
Ketentuan kambing yang bisa untuk aqiqah sama dengan yang ditentukan untuk kurban. Dari jenis domba berumur tidak kurang dari 6 bulan, sedang dari jenis kambing kacang berumur tidak kurang dari 1 tahun, dan harus bebas dari cacat.

6. Mencukur rambut bayi dan bersedekah perak seberat timbangannya.
Hal ini mempunyai banyak faedah, antara lain: mencukur rambut bayi dapat memperkuat kepala, membuka pori-pori di samping memperkuat indera penglihatan, pendengaran dan penciuman. (Abdullah Nasih Ulwan, Tarbiyatul Auladfil Islam, juz 1.)
Bersedekah perak seberat timbangan rambutnya pun mempunyai faedah yang jelas.
Diriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad, dari bapaknya, katanya:
“Fatimah Radhiyalllahu ‘anha menimbang rambut Hasan, Husein, Zainab dan Ummu Kaltsum; lalu ia mengeluarkan sedekah berupa perak seberat timbangannya (HR. Imam Malik dalam Al Muwaththa’)

7. Khitan.
Yaitu memotong kulup atau bagian kulit sekitar kepala zakar pada anak laki-laki, atau bagian kulit yang menonjol di atas pintu vagina pada anak perempuan. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah bersabda:
“Fitrah itu lima: khitan, mencukur rambut kemaluan, memendekkan kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak” (HR. Al-bukhari, Muslim)
Khitan wajib hukumnya bagi kaum pria, dan rnustahab (dianjurkar) bagi kaum wanita.WallahuA’lam.

Inilah beberapa etika terpenting yang perlu diperhatikan dan dilaksanakan oleh orangtua atau pada saat-saat pertama dari kelahiran anak.
Namun, di sana ada beberapa kesalahan yang terjadi pada saat menunggu kedatangannya Secara singkat, antara lain:

A. Membacakan ayat tertentu dari Al Qur’an untuk wanita yang akan melahirkan; atau menulisnya lalu dikalungkan pada wanita, atau menulisnya lalu dihapus dengan air dan diminumkan kepada wanita itu atau dibasuhkan pada perut danfarji (kemaluan)nya agar dimudahkan dalam melahirkan. ltu semua adalah batil, tidak ada dasamya yang shahih dari Rasulullah, Akan tetapi bagi wanita yang sedang menahan rasa sakit karena melahirkan wajib berserah diri kepada Allah agar diringankan dari rasa sakit dan dibebaskan dari kesulitannya Dan ini tidak bertentangan dengan ruqyah yang disyariatkan.

B. Menyambut gembira dan merasa senang dengan kelahiran anak laki-laki, bukan anak perempuan.
Hal ini termasuk adat Jahiliyah yang dimusuhi Islam. Firman Allah yang berkenaan dengan mereka:
“Apabila seseorang dari merea diberi kabar dengan (kelahiran) anak, perempuan, hitamlah (merah padamlah) matanya, dan dia sangat marah; ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan padanya. Apakah dia akan memeliharannya dengan menanggumg kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang telah mereka lakukan itu”(Surah An Nahl : 58-59).
Mungkin ada sebagian orang bodoh yang bersikap berlebihan dalam hal ini dan memarahi isterinya karena tidak melahirkan kecuali anak perempuan. Mungkin pula menceraikan isterinya karena hal itu, padahal kalau dia menggunakan akalnya, semuanya berada di tangan Allah ‘Azza wa lalla. Dialah yang memberi dan menolak. Firman-Nya:
Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki atau Dia menganugerahkan kepada siapa yang dia kehendaki-Nya, dan dia menjadikan Mandul siapa yang Dia kehendaki…” (Surah Asy Syura :49-50).
Semoga Allah memberikan petunjukkepada seluruh kaum Muslimin.

C. Menamai anak dengan nama yang tidak pantas.Misalnya, nama yang bermakna jelek, atau nama orang-orang yang menyimpang seperti penyanyi atau tokoh kafir. Padahal menamai anak dengan nama yang baik merupakan hak anak yang wajib atas walinya.
Termasuk kesalahan yang berkaitan dengan pemberian nama, yaitu ditangguhkan sampai setelah seminggu.

D. Tidak menyembelih aqiqah untuk anak padahal mampu melakukannya. Aqiqah merupakan tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasalam, dan mengikuti tuntunan beliau adalah sumber segala kebaikan.

E. Tidak menetapi jumlah bilangan yang ditentukan untuk aqiqah. Ada yang mengundang untuk acara aqiqah semua kenalannya dengan menyembelih 20 ekor kambing, ini merupakan tindakan berlebihan yang tidak disyariatkan. Ada pula yang kurang dari jumlah bilangan yang ditentukan, dengan menyembelih hanya seekor kambing untuk anak iaki-laki, inipun menyalahi yang disyariatkan. Maka hendaklah kita menetapi sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wasalam tanpa menambah ataupun mengurangi.

F. Menunda khitan setelah akil baligh.Tradisi ini dulu terjadi pada beberapa suku, seorang anak dikhitan sebelum kawin dengan cara yang biadab di hadapan orang banyak.
Itulah sebagian kesalahan, dan masih banyak lainnya. Semoga cukup bagi kita dengan menyebutkan etika dan tata cara yang dituntunkan ketika menerima kelahiran anak. Karena apapun yang bertentangan dengan hal-hal tersebut, termasuk kesalahan yang tidak disyariatkan. (Disarikan dari kitab Adab Istiqbal al Maulud fil Islam, oleh ustadz Yusuf Abdullah al Arifi)

MEMPERHATIKAN ANAK PADA USIA ENAM TAHUN PERTAMA
Periode pertama dalam kehidupan anak (usia enam tahun pertama) merupakan periode yang amat kritis dan paling penting. Periode ini mempunyai pengaruh yang sangat mendalam dalam pembentukan pribadinya. Apapun yang terekam dalam benak anak pada periede ini, nanti akan tampak pengaruh-pengaruhnya dengannyata pada kepribadiannya ketika menjadi dewasa. (Aisyah Abdurrahman Al Jalal, Al Muatstsirat as Salbiyah.)
Karena itu, para pendidik perlu memberikan banyak perhatian pada pendidikan anak dalam periode ini.
Aspek-aspek yang wajib diperhatikan oleh kedua orangtua dapat kami ringkaskan sebagai berikut:

1. Memberikan kasih sayang yang diperlukan anak dari pihak kedua orangtua, terutama ibu.
Ini perlu sekali, agar anak belajar mencintai orang lain. Jika anak tidak merasakan cintakasih ini,maka akan tumbuh mencintai dirinya sendiri saja dan membenci orang disekitamya. “Seorang ibu yang muslimah harus menyadari bahwa tidak ada suatu apapun yang mesti menghalanginya untuk memberikan kepada anak kebutuhan alaminya berupa kasih sayang dan perlindungan. Dia akan merusak seluruh eksistensi anak, jika tidak memberikan haknya dalam perasaan-perasaan ini, yang dikaruniakan Allah dengan rahmat dan hikmah-Nya dalam diri ibu, yang memancar dengan sendirinya untuk memenuhi kebutuhan anak.” (Muhammad Quthub,Manhaiut Tarbiyah Al Islamiyah, juz 2.)
Maka sang ibu hendaklah senantiasa memperhatikan hal ini dan tidak sibuk dengan kegiatan karir di luar rumah, perselisihan dengan suami atau kesibukan lainnya.

2. Membiasakan anak berdisiplin mulai dari bulan-bulan pertama dari awal kehidupannya.
Kami kira, ini bukan sesuatu yang tidak mungkin. Telah terbukti bahwa membiasakan anak untuk menyusu dan buang hajat pada waktu-waktu tertentu dan tetap, sesuatu yang mungkin meskipun melalui usaha yang berulang kali sehingga motorik tubuh akan terbiasa dan terlatih dengan hal ini.
Kedisiplinan akan tumbuh dan bertambah sesuai dengan pertumbuhan anak, sehingga mampu untuk mengontrol tuntutan dan kebutuhannya pada masa mendatang.

3. Hendaklah kedua orangtua menjadi teladan yang baik bagi anak dari permulaan kehidupannya.
Yaitu dengan menetapi manhaj Islam dalam perilaku mereka secara umum dan dalam pergaulannya dengan anak secara khusus. Jangan mengira karena anak masih kecil dan tidak mengerti apa yang tejadi di sekitarnya, sehingga kedua orangtua melakukan tindakan-tindakan yang salah di hadapannya. Ini mempunyai pengaruh yang besar sekali pada pribadi anak. “Karena kemampuan anak untuk menangkap, dengan sadar atau tidak, adalah besar sekali. Terkadang melebihi apa yang kita duga. Sementara kita melihatnya sebagai makhluk kecil yang tidak tahu dan tidak mengerti. Memang, sekalipun ia tidak mengetahui apa yang dilihatnya, itu semua berpengaruh baginya. Sebab, di sana ada dua alat yang sangat peka sekali dalam diri anak yaitu alat penangkap dan alat peniru, meski kesadarannya mungkin terlambat sedikit atau banyak.
Akan tetapi hal ini tidak dapat merubah sesuatu sedikitpun. Anak akan menangkap secara tidak sadar, atau tanpa kesadaran puma, dan akan meniru secara tidak sadar, atau tanpa kesadaran purna, segala yang dilihat atau didengar di sekitamya.” (Ibid.)

4. Anak dibiasakan dengan etiket umum yang mesti dilakukan dalam pergaulannya.
Antara lain: (Silahkan lihat Ahmad Iuuddin Al Bayanuni,MinhajAt TarbiyahAsh Shalihah.)

” Dibiasakan mengambil, memberi, makan dan minum dengan tangan kanan. Jika makan dengan tangan kiri, diperingatkan dan dipindahkan makanannya ke tangan kanannya secara halus.

” Dibiasakan mendahulukan bagian kanan dalam berpakaian. Ketika mengenakan kain, baju, atau lainnya memulai dari kanan; dan ketika melepas pakaiannya memulai dari kiri.

” Dilarang tidur tertelungkup dandibiasakan ·tidur dengan miring ke kanan.

” Dihindarkan tidak memakai pakaian atau celana yang pendek, agar anak tumbuh dengan kesadaran menutup aurat dan malu membukanya.

” Dicegah menghisap jari dan menggigit kukunya.

” Dibiasakan sederhana dalam makan dan minum, dan dijauhkan dari sikap rakus.

” Dilarang bermain dengan hidungnya.

” Dibiasakan membaca Bismillah ketika hendak makan.

” Dibiasakan untuk mengambil makanan yang terdekat dan tidak memulai makan sebelum orang lain.

” Tidak memandang dengan tajam kepada makanan maupun kepada orang yang makan.

” Dibiasakan tidak makan dengan tergesa-gesa dan supaya mengunyah makanan dengan baik.

” Dibiasakan memakan makanan yang ada dan tidak mengingini yang tidak ada.

” Dibiasakan kebersihan mulut denganmenggunakan siwak atau sikat gigi setelah makan, sebelum tidur, dan sehabis bangun tidur.

” Dididik untuk mendahulukan orang lain dalam makanan atau permainan yang disenangi, dengan dibiasakan agar menghormati saudara-saudaranya, sanak familinya yang masih kecil, dan anak-anak tetangga jika mereka melihatnya sedang menikmati sesuatu makanan atau permainan.

” Dibiasakan mengucapkan dua kalimat syahadat dan mengulanginya berkali-kali setiap hari.

” Dibiasakan membaca “AZhamdulillah” jika bersin, dan mengatakan

“Yarhamukallah” kepada orang yang bersin jika membaca “Alhamdulillah”.

” Supaya menahan mulut dan menutupnya jika menguap, dan jangan sampai bersuara.

” Dibiasakan berterima kasih jika mendapat suatu kebaikan, sekalipun hanya sedikit.

” Tidak memanggil ibu dan bapak dengan namanya, tetapi dibiasakan memanggil dengan kata-kata: Ummi (Ibu), dan Abi (Bapak).

” Ketika berjalan jangan mendahului kedua orangtua atau siapa yang lebih tua darinya, dan tidak memasuki tempat lebih dahulu dari keduanya untuk menghormati mereka.

” Dibiasakan bejalan kaki pada trotoar, bukan di tengah jalan.

” Tidak membuang sampah dijalanan, bahkan menjauhkan kotoran darinya.
” Mengucapkan salam dengan sopan kepada orang yang dijumpainya dengan mengatakan “Assalamu ‘Alaikum” serta membalas salam orang yang mengucapkannya.

” Diajari kata-kata yang benar dan dibiasakan dengan bahasa yang baik.

” Dibiasakan menuruti perintah orangtua atau siapa saja yang lebih besar darinya, jika disuruh sesuatu yang diperbolehkan.

” Bila membantah diperingatkan supaya kembali kepada kebenaran dengan suka rela, jika memungkinkan. Tapi kalau tidak, dipaksa untuk menerima kebenaran, karena hal ini lebih baik daripada tetap membantah dan membandel.

” Hendaknya kedua orangtua mengucapkan terima kasih kepada anak jika menuruti perintah dan menjauhi larangan. Bisa juga sekali-kali memberikan hadiah yang disenangi berupa makanan, mainan atau diajak jalan-jalan.

” Tidak dilarang bermain selama masih aman, seperti bermain dengan pasir dan permainan yang diperbolehkan, sekalipun menyebabkan bajunya kotor. Karena permainan pada periode ini penting sekali untuk pembentukan jasmani dan akal anak.

” Ditanamkan kepada anak agar senang pada alat permainan yang dibolehkan seperti bola, mobil-mobilan, miniatur pesawat terbang, dan lain-lainnya. Dan ditanamkan kepadanya agar membenci alat permainan yang mempunyai bentuk terlarang seperti manusia dan hewan.

” Dibiasakan menghormati milik orang lain, dengan tidak mengambil permainan ataupun makanan orang lain, sekalipun permainan atau makanan saudaranya sendiri.

bersambung insya Allah..

sumber : Website “Yayasan Al-Sofwa”
www.alsofwah.or.id

Tags:

Cara agar File kita tidak sembarangan di copy orang

.fullpost{display:inline;}Terkadang kita risih jika file kita yang penting terutama, bisa seenaknya dicopy oleh orang lain… Berikut tips agar file kita tidak bisa dicopy..Langsung saja, berikut tipsnya :

  1. Klik Start >> Run >> ketik Regedit kemudian OK atau ENTER.
  2. Klik HKEY_LOCALMACHINESYSTEM – CurrentControlSet – Control
  3. Klik kanan pada Control pilih New >> Key kemudian beri nama “StorageDevicePolicies” (tanpa tanda kutip)
  4. Klik kanan pada StorageDevicePolicies kemudian pilih New >> DWord Value kemudian beri nama “WriteProtect” (juga tanpa tanda kutip).
  5. Kemudian klik double pada WriteProtect tersebut, kemudian ganti value datanya menjadi 1.
  6. Kemudian Restart Komputer/Laptop Anda.
  7. Selesai

Jika berhasil, setiap kali ada orang lain yang ingin mengcopy paste file, maka akan ada commentar : Error Copying File or Folder.

Jika ingin mengembalikan ke kondisi semula, ganti value datanya menjadi 0.

Sumber : onoid.blogspot.com

Tags:
Sep
28
Posted by lukman

KARAKTERISTIK TUK MERAIH KEBAHAGIAAN

( Tafsir surat al-‘ashr )

Oleh: Syekh Dr. Muhammad bin Musa Alu Nashr

Penerjemah: Abu Ahmad Fuad Hamzah Baraba’,Lc


قال الله تعالى: ( والعصر(1) إنّ الإنسان لفي خسر(2) إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحقّ وتواصوا بالصبر(3)

Allah تعالى berfirman:

Demi Masa(1) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian(2) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran(3). (Qs. Al-Ash r: 1-3)

Sesungguhnya surat al-‘ashr merupakan surat yang agung. Dia adalah mukjizat, ringkas lafazhnya akan tetapi mengandung banyak makna. Mencakup sebab-sebab kebahagiaan, dan kemuliaan, serta memperingatkan akan sebab-sebab kesengsaraan. Kalau seandainya ada orang yang paling fasih sekalipun jika ingin menjelaskan sebab-sebab kebahagiaan dan sebab-sebab kesengsaraan niscaya akan membutuhkan berjilid-jilid buku untuk menjelaskannya, bahkan itupun masih belum bisa menjelaskan semuanya. Akan tetapi kalamullah tidak akan didatangi oleh kebatilan baik dari depan maupun dari belakang, dan tidak akan mampu baik jin ataupun manusia untuk membuat satu surat semisal dengannya.

Sesungguhnya surat ini pendek ayatnya akan tetapi mengandung banyak makna, didalamnya menghimpun kebaikan dunia dan akhirat. Barang siapa yang mengamalkannya maka dia akan sukses dan beruntung, dan barang siapa yang meninggalkannya dia akan merugi. Imam Asy-syafi’i رحمه الله berkata: “kalau seandainya Allah tidak menurunkan hujjah kecuali surat ini kepada hamba-hambanya, niscaya sudah cukup bagi mereka”. Dan surat al-‘ashr ini dibagi untuk hamba dan Rabbnya. Setengah pertama yaitu: Iman dan amal shaleh dimana ini untuk Allah dari hambanya, dan setengah yang kedua yaitu: Saling menasihati dalam kebenaran dan sabar diatasnya, ini antara hamba dan saudara-saudaranya. Allah membuka surat ini dengan sumpah, ini merupakan suatu bukti akan penting dan agungnya sesuatu yang dijadikan sumpah ataupun tidak, akan tetapi Allah bersumpah kapan saja Dia kehendaki, dan bagaimana Dia kehendaki, serta dengan apa saja yang Dia kehendaki. Allah telah bersumpah dengan الضحى ) ( waktu dhuha, (( الطور gunung sinai, ( النجم ) bintang. ( العاديات ) kuda perang yang berlari kencang, dan sumpah yang seperti itu banyak didalam al-qur’an.

v Bolehkah serang makhluk bersumpah dengan selain Allah?

Tentu tidak; berdasarkan keumuman dalil baik dari al-qur’an maupun as-sunnah yang memperingatkan dan melarang untuk bersumpah dengan selain Allah, sebagaimana yang terdapat dalam hadits bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ( من حلف بغير الله فقد أشرك ) “Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah sungguh dia telah berbuat syirik”, sebagaimana dalam shahih al-jami’ no:(6204). Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه berkata: “seandainya aku bersumpah dengan nama Allah secara dusta lebih aku sukai dari pada bersumpah dengan selain Allah walaupun benar, karena barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah, sungguh dia telah berbuat syirik”.

Kebanyakan ahli tafsir berpendapat bahwa (العصر ) adalah masa atau zaman, ada yang mengatakan bahwasanya Allah bersumpah dengan masa karena terdapat ‘ibroh bagi orang yang memperhatikan, juga didalam masa itu Allah mengatur segala urusan dan menentukan takdir-takdir, serta memuliakan orang-orang yang taat kepadaNya, dan menghinakan orang-orang yang suka berbuat maksiat. (العصر ) merupakan zaman untuk memperoleh keuntungan dan amal shaleh bagi orang yang beriman, dan sebagai kesengsaraan bagi pelaku maksiat dan orang yang berpaling dari Allah.

Sebagian lain berpendapat: bahwasanya (العصر ) adalah waktu sholat asar. Pendapat lain mengatakan: maknanya adalah Rabb penguasa zaman.

Adapula yang berpendapat: (العصر ) adalah akhir waktu siang. Juga masih banyak pendapat-pendapat lainnya. Adapun yang paling dekat dengan kebenaran adalah pendapat yang pertama, karena masa adalah modal bagi manusia, dan waktu yang telah berlalu dari umurnya, dan tidak akan pernah kembali untuk selamanya.

Manusia berharap untuk bisa kembali kedunia, akan tetapi ini merupakan sesuatu yang mustahil… ( Dia berkata: “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku kedunia (99) Agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak! sungguh itu adalah dalih yang diucapkannya saja. dan dihadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.”(Qs. Al-Mu’minun : 99-100)

Al Masih عليه السلام berkata: Siang dan malam itu bagaikan lemari, maka lihatlah apa yang kau letakkan didalamnya. Dari Hasan Al-basri berkata: hari ini adalah tamu bagimu, dan dia akan pergi baik memuji atau mencelamu, adapun orang yang lalai adalah orang yang menyia-nyiakan umurnya tanpa ada manfaat dan amal shaleh.

Rosulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:( كل الناس يغدو, فبائع نفسه, فمعتقها أو موبقها ) “Semua orang bekerja sampai ada yang menjual dirinya, sehingga dia menjadi merdeka atau malah celaka” ( H.R Muslim ).

Tugas seorang muslim adalah mempelajari al-qur’an dan ilmu yang bermanfaat, berziarah kemasjid al-haram dan masjid Nabawi, menunaikan ibadah umroh, menyambung silaturohim, mempelajari profesi yang terhormat, rekreasi dan permainan yang diperbolehkan. Serta berhati-hati dari siaran televisi dan internet (yang berbahaya) dan mengambil manfaat darinya.

v Siapakah yang dimaksud dengan (الإنسان) dalam surat ini?

Ada yang berpendapat: yang dimaksud adalah orang kafir, dengan alasan pengecualian orang-orang mukmin. Pendapat lain mengatakan: Itu adalah Abu Jahal. Pendapat lainnya: Itu adalah nama jenis (jenis manusia) dan inilah yang paling benar, karena semua manusia dalam keadaan merugi,kecuali orang-orang yang memiliki empat kriteria, yaitu: Iman, amal shaleh, saling menasihati dalam kebenaran dan mendakwahkannya, serta saling menasihati dalam kesabaran dan konsisten di atasnya. Empat kriteria inilah yang dihimpun dalam surat yang penuh barokah ini.

v Apa yang dimaksud dengan Iman?

Iman menurut bahasa adalah pembenaran yang mantap, Allah تعالى berfirman:”dan engkau tentu tidak akan percaya kepada kami”.(Qs.Yusuf : 17)

Sedangkan menurut ahlu sunnah waljamaah: Iman adalah pengucapan dengan lisan, dan pembenaran dengan hati serta pengamalan dengan perbuatan.

Ø إقرار باللسان : yaitu persaksian bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak untuk diibadahi secara benar kecuali Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, yang mencakup makna tiga macam tauhid;

§ Tauhid Rububiyah yaitu: mentauhidkan Allah dalam hal perbuatanNya, seperti menciptakan, memberi rizki,

menghidupkan dan mematikan. Tauhid ini telah diyakini oleh kaum musyrikin zaman dahulu sebagaimana

dalam firman Allah تعالى : “ dan jika engkau bertanya kepada mereka ,siapakah yang menciptakan mereka,

niscaya mereka menjawab, Allah;”(Qs. Az-zukhruf : 87).

§ Tauhid Uluhiyah yaitu: mentauhidkan Allah dalam ibadah para hambanya (mentauhidkan Allah dalam hal

Ibadah); seperti: menyembelih, nadzar, doa, istianah, inabah (kembali kepada Allah) dimana dalil-dalil yang

menjelaskan macam-macam ibadah ini banyak didalam al-qur’an dan as-sunnah.

§ Tauhid Asma dan sifat yaitu: menetapkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi diriNya, dan ditetapkan pula

oleh rasulNya Shalallahu ‘alaihi wasallam, berupa sifat-sifat yang sempurna dengan mensucikan dari

penyerupaan kepada makhluknya, dan meniadakan apa yang telah ditiadakan Allah bagi diriNya, dan

ditiadakan pula oleh rasulNya, sebagaimana firman Allah تعالى : “Tiada sesuatupun yang serupa dengan

Dia. Dan Dia maha mendengar, maha melihat”.(Qs.Asy-syura : 11).

Ø تصديق بالجنان : yaitu pembenaran dengan hati.

Ø عمل بالأركان : yaitu mengamalkan dengan perbuatan anggota tubuh, karena amal adalah satu kesatuan yang tidak

dapat dipisahkan dari keimanan, karena keimanan dapat bertambah dengan ketaatan, berkurang dengan perbuatan maksiat, sebagaimana iman dan amal shaleh itu selalu digabungkan dalam al-qur’an. Allah تعالى berfiman: “dan apabila dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka bertambah (kuat) imannya”.(Qs.Al-anfaal : 2). dan amal itu tidak akan menjadi sholeh kecuali jika amalan itu baik, dan tidak akan menjadi baik kecuali terpenuhi dua syarat:

1).Amalan itu ikhlas mengharap wajah Allah semata.

2).Amalan itu sesuai petunjuk Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam.

Dan ini sesuai dengan firman Allah تعالى : “Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatupun dalam beribadah kepada Tuhannya”.(Qs. Al-kahf : 110). Maka seyogyanya bagi setiap muslim untuk selalu berusaha ittiba’ dan berhati-hati dari perbuatan bid’ah. Ittiba’ yaitu: dengan cara beramal sesuai dengan kitab dan sunnah dan apa-apa yang telah didahului oleh generasi terdahulu umat ini, baik dari segi keyakinan ataupun amal shaleh, serta mengikuti sebaik-baik generasi yang telah dipersaksikan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dengan kebaikan, sebagaimana sabdanya: ”sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang yang sesudahnya, kemudian orang-orang yang sesudahnya”. Dan juga sabda Beliau: ”ikutilah oleh kalian sunnahku dan sunnahnya khulafa ar-rosyidin yang mendapatkan petunjuk sesudahku, pegang teguhlah sunnah itu dengan kuat, dan tinggalkanlah olehmu perkara-perkara baru dalam agama”…dst. Adapun perbuatan bid’ah yaitu: mendekatkan diri kepada Allah تعالى dengan amalan-amalan yang tidak dicontohkan oleh al-qur’an ataupun sunnah Rasulullah, dan juga tidak pernah dikerjakan oleh para sahabat beliau, seperti kebanyakan bid’ah-bid’ah yang diada-adakan oleh manusia dizaman ini. Oleh karena itu Nabi عليه السلام bersabda: ”setiap perbuatan bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan itu akan masuk neraka”. Dan juga sabdanya: ”barang siapa yang beramal dengan amalan yang tidak ada contohnya dariku maka akan tertolak”.

v Saling menasihati dalan kebenaran:

Kebenaran lawan dari kebatilan, setiap apa saja yang berasal dari Allah maka itu sesuatu yang haq, dan apa-apa yang menyelisihi syariatNya maka itu sesuatu yang batil, Allah تعالى berfirman: “dan katakanlah “kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap”.(Qs. Al-israa : 81).

Yang dimaksud saling menasihati dalam kebenaran adalah dakwah kepada Allah dan menyampaikan syariat-syariatNya serta beramar ma’ruf nahi mungkar, ini merupakan tugas umat islam, bukan umat-umat yang lainnya.

Allah تعالى berfirman: ”kamu umat islam adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kamu

menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah”.

(Qs.Ali Imran : 110).

Tanggung jawab dakwah pada umat-umat terdahulu tergantung pada para Nabinya, dan tatkala Allah

mengutus nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم sebagai penutup para nabi, yang mengharuskan kesinambungan

dakwah sesudahnya, karena tidak ada nabi setelahnya yang akan membawa tanggung jawab dakwah kepada

umatnya secara umum, maka kewjiban dakwah itu menjadi tanggung jawab para ulama dan umaro secara

khusus, sebagaimana firman Allah تعالى : “dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru

kepada kebajikan, menyuruh berbuat yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar”.(Qs. Ali Imran : 104)

juga firmanNya: “dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi kemedan perang,mengapa

sebagian dari setiap golongan diantara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama dan untuk

memberi peringatan kepada kaumnya apbila telah kembali,agar mereka menjaga dirinya”.(Qs.At-Taubah:122).

Saling menasihati itu butuh peran serta dan andil seluruh lapisan masyarakat, seorang ibu, atau guru

hendaknya menasihati anak dan muridnya, pemimpin menasihati rakyatnya, seorang wanita menasihati wanita-

wanita lainya, yang ‘alim menasihati yang awam, demikian juga satu dengan yang lainnya saling nasihat

menasihati dengan keimanan dan amal shaleh. Dan setiap individu menyeru kepada kebajikan serta beramar

ma’ruf nahi mungkar sesuai dengan kemampuannya.

v Saling menasihati dalam kesabaran:

Dikarenakan jalan dakwah kepada Allah dan amar ma’ruf nahi mungkar merupakan jalan yang sulit dan

penuh rintangan, bukan jalan yang mudah yang berhiaskan bunga harum semerbak. Oleh karena itu wajib bagi

para dai untuk tetap bersabar dalam dakwahnya dan meneladani para nabi dan dai disetiap masa. Ali bin Abi

Thalib menghatakan: “sabar didalam agama seperti kepala pada tubuh kita”. Imam Ahmad berkata: “kami

mendapatkan baiknya urusan kita dengan bersabar”. Bahkan para nabipun ditimpa berbagai macam

ujian, siksaan, bencana dan pengusiran dari kaumnya,diawali nabi Nuh عليه السلام dan diakhiri nabi

Muhammad صلى الله عليه وسلم , dan Allah menetapkan hati Mereka sebagaimana firmannya: “maka bersabarlah

engkau Muhammad sebagaimana kesabaran rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati”.(Qs. Al-ahqaf : 35).

Allah contohkan kepada kita perumpamaan yang tinggi dalam kesabaran dan keteguhan hati mereka diatas

kebenaran, dan dalam menaggung beban berat dijalan Allah dalam rangka mengharapkan ridhoNya, agar

seruan Allah itu menjadi tinggi dan seruan orang-orang kafir itu menjadi rendah, yang mana Allah تعالى سبحانه و

telah menjelaskan balasan bagi orang-orang yang sabar dalam firmanNya: “hanya orang-orang yang sabarlah

yang disempurnakan pahalanya tanpa batas”.(Qs. Az-zumar : 10).

Para sahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah menanggung berbagai macam penderitaan dengan penuh

Kesasbaran, dalam rangka menyebarluaskan dakwah islamiyah, seperti; khobab, bilal, abu dzar, yasir,

sumayyah, dan yang lainnya. Sejarah salaf as-sholih penuh dengan pengorbanan dan kesabaran diatas dakwah,

kalaulah bukan karena kesabaran dan kegigihan perjuangan mereka, tidak akan tegak agama Allah dimuka

bumi ini, kita hanyalah satu kebaikan dari kebaikan-kebaikan perjuangan mereka, oleh karena itu hendaknya

para dai dizaman ini untuk tetap menjadikan sabar dan teguh diatas dakwah sebagai mottonya, SSkarena

sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat, dan kesudahan yang baik hanya bagi orang-orang yang bertaqwa,

segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

SUMBER: Majalah OMMATY dzul qo’dah 1428

Tags:
Feb
18
Posted by lukman

mencoba menulis di Blog unila

assalamualikum wrwb

selamat atas terbentuknya blog ini, semangat terus untuk rekan2 blogger unila seperti suhu blog gigih and erie k jangan lupa

ajarin saya ngeblog. Lam kenal untuk semua blogger UNILA

senyum yuk, “seyum adalah ibadah”.

Tags:
Subscribe to Loeckm4n