Sedikit Demi Sedikit Lama-lama Habis

Bandar Lampung memiliki 32 bukit, namun kini 30% dari bukit-bukit tersebut sudah berubah bentuk dan fungsi. Contohnya Bukit Camang Timur yang berfungsi antara lain sebagai daerah resapan air, dieksploitasi untuk pengembangan permukiman mewah dan pertambangan galian C.

Bukit Tamin sudah hancur diratakan dan dimanfaatkan sebagai tempat permukiman. Bukit Randu yang terletak di tengah kota, yang seharusnya berfungsi sebagai kawasan hutan kota dan daerah resapan air, habis dimanfaatkan untuk pembangunan hotel dan restoran mewah. Satu bukit lainnya, yakni bukit Kunyit, hancur akibat penggalian batu secara berlebihan.

Sebenarnya sudah ada peraturan yang mengatur bagaimana seharusnya bukit-bukit tersebut di kelola, menurut Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Bukit dan Lereng di Bandar Lampung, bukit-bukit tersebut seharusnya dipertahankan. Bukit-bukit di Bandar Lampung memang dapat dimanfaatkan, namun pemanfaatannya terbatas pada kemiringan dua persen, sisanya harus menjadi hutan kota dan resapan air. Jadi, tidak semua bukit bisa digali sebagai sumber material galian C atau dimanfaatkan sebagai permukiman, hanya beberapa bukit saja yang bisa dimanfaatkan.

Terakhir, satu bukit yang baru saja akan berubah menjadi pemukiman, yakni bukit bakung. Padahal bukit bakung merupakan bagian dari areal konservasi Taman Hutan Raya Wan Abdul Rahman. Aparat terkait ternyata mengetahui mengenai pembangunan yang sedang berjalan tersebut. Setelah diselidiki memang ternyata pembangunan tersebut belum memiliki izin yang resmi. Seharusnya pemerintah memberikan sanksi yang tegas, jangan malah nantinya mengeluarkan izin karena pembangunan terlanjur dimulai.

Senior saya pernah menceritakan bal berikut :
“Sebuah mobil yang penuh penumpang berjalan di atas jalan yang belum diaspal, para penumpang merasa tidak nyaman dan mengeluh karena banyak batu-batu besar bertebaran yang membuat mobil berjalan lambat dan tergoncang-goncang. Kemudian mobil terus berjalan dan memasuki jalan beraspal yang mulus, para penumpang dan sopir pun senang karena mobil dapat berjalan cepat dan tanpa goncangan sehingga penumpang dapat tidur dengan nyenyak. Saat sampai di tanjakan, karena suatu hal mobil tidak kuat untuk menanjak, para penumpang panik dan berlompatan keluar mencari batu. Tetapi dijalan mulus itu ternyata tidak terdapat batu untuk mengganjal mobil agar tidak terus mundur dan masuk jurang. Andaikan pada saat itu ada seseorang yang membawa batu untuk mengganjal mobil, pasti para penumpang akan membelinya walaupun dengan harga mahal.”

Ternyata sesuatu yang terlihat tidak berguna bahkan dianggap mengganggu suatu saat dapat berubah menjadi sangat dibutuhkan. Mudah-mudahan bukit-bukit kita tidak mengalami nasib seperti batu tersebut, yang dicari dan dibutuhkan setelah tidak ada. karena ada pepatah mengatakan “Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit atau Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi habis”

Karya penambang batu
Ketika saya berjalan-j
alan melihat beberapa bukit yang dijadikan sebagai areal penambangan batu, saya sempat melihat beberapa hasil karya para penambang yang bisa dikatakan unik dan memiliki nilai seni. Tak jarang beberapa areal penambangan digunakan sebagai tempat berfoto, baik foto pemandangan biasa maupun foto untuk pra-wedding. Lihat saja contoh foto dibawah ini, entah disengaja atau tidak, hasil pahatannya menyerupai menara twin tower petronas di Malaysia. (ada-ada aja ya..)

Comments (2)

HornbillmanJune 12th, 2009 at 9:22 am

Makanya sebelum terlambat, rekamlah semua info flora dan fauna di sekitar Tanjung Karang. Citizen science mungkin bisa dipakai untuk membantu mengumpulkannya? :D gitu pak dosen :D

sonyJuly 29th, 2009 at 2:26 pm

iya tuh.. pemerintah payah.

Leave a comment

Your comment