Kuala Pembuang (part one): ‘Feri wanna be’
Posted in Journey by: ethieHai all…. Duh, rasanya sudah lamaaa banget gak nengok blog inih. Padahal baru lima hari..
Btw, lima hari lalu saya dapat tugas ke luar daerah. (Udah tinggal di daerah, ditugaskan ke daerah lagi.. ckckckck..)
Maksud saya, ke pedalaman Kalimantan Tengah. Gak terlalu pedalaman sih, cuma waktu tempuh dari Kota Pangkalan Bun ke Kuala Pembuang (Namanya serem euy!) sekitar 10 jam.
Perjalanan dimulai dari Minggu (23/3), pukul 2 dini hari dari Pangkalan Bun menuju ke Sampit. Waktu tempuhnya sekitar empat jam. Sampai di Sampit, kami harus menunggu dua jam karena travel yang akan mengantar ke Kuala Pembuang baru berangkat jam delapan. Hiks!
Setelah sekian lama menunggu, jam delapan kami meluncur ke Pelabuhan Kuala Pembuang. Waktu tempuhnya sekitar enam jam. Dari Pelabuhan Kuala Pembuang ke ‘Kota Kuala Pembuang’, kami harus menyeberang menggunakan ‘kapal feri’.
Eits, jangan pernah membayangkan ‘kapal feri’ ini sama dengan kapal feri yang menyeberang dari Bakauheni ke Merak.
‘Kapal feri’ ini adalah dua perahu kelotok yang disambung dan di atasnya diberi papan-papan sehingga membentuk selasar panjang. Di atas papan ini, bisa ditumpangi maksimal empat mobil. Busyeeettt! 
Swearrrrr! Saya takutnya minta ampun! Tapi, pasrah saja. Sambil melirik ke batang kayu yang bakal saya andalkan kalau ‘feri jadi-jadian‘ ini tiba-tiba nyelem alias tenggelam. Secara, saya ndak bisa berenang jeh!
Alkhamdulillah.. Momentum penyeberangan ini bisa dilalui dengan lancar… 
Nah, ini dia ‘feri jadi-jadian’ yang saya maksud…

Setelah itu, kami menuju ke Hotel Holandia untuk sleeping beauty di kamar masing-masing.
Itulah sekelumit cerita dari Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan.







