Eriek’s Written

Learning to be a good writter
Random Image

Tulisan di dalam blog ini adalah opini pribadi dan tidak mewakili institusi manapun. Pengunjung blog ini memiliki hak untuk meng-kopi tulisan yang dimuat dalam blog ini untuk kepentingan bersama. Namun demikian, mohon menyebutkan sumber tulisan.


Archive for the ‘kuliner’


Nasi Ikan Rp 6500?

Biasanya para mahasiswa yang nge-kost mencari tempat makan di warung yang murah. Ya, seperti di warung makan di Kampung Baru. Di sanalah cukup banyak warung makan yang murah dan terjangkau kantong para mahasiswa dari perantauan (dari luar kota,red).

Berbeda dengan tempat lain yang bukan sebagian besar lingkungan mahasiswa. Harga-harganya lebih mahal. Cukup wajar di tempat yang bukan lingkungan mahasiswa, harga menu-menu makanan di warung makan sedikit lebih mahal.

Tapi, sabtu kemarin (29/3) saya makan siang di depan wartel Arjuna dan memilih menu makan nasi ikan mas. Saya mengambil sendiri makanan sesuai kehendak saya ketika dipersilahkan seorang perempuan penjaga warung itu. Ada ikan, ayam, dan menu-menu lainnya. Tak ada firasat apa-apa dan makan di sana seperti biasa dengan tenang. Setelah selesai makan, saya bilang makan nasi ikan mas ke seorang mbak penjaga warung makan dan hendak membayar. Tiba-tiba saya kaget mendengar dari mbak penjaga warung makan itu bilang enam ribu lima ratus. “Hah!!”saya kaget.

“Iya mas, Rp6500. Barang-barang sekarang sudah mahal mas,”kata mbak itu.

“Ehm,…ngga Rp5000 aja mbak,”tawar saya.

Mbak itu tersenyum saja. Saya menghitung-hitung lagi uang ribuan dari kantong celana saya, lalu saya berikan uang seribuan sebanyak tujuh lembar. Setelah uang yang saya berikan diterima mbak tadi, ia meletakkan saja di meja. Terdiam saya menunggu uang kembalian Rp500 darinya. Akhirnya, ia mengambil uang Rp500 dari atas mejanya dan memberikannya kepada saya. “Huh…lupa atau pura-pura lupa,”pikir saya sambil senyum-senyum.

Dalam perjalanan pulang, saya masih memikirkan makan nasi ikan tadi. Kok bisa segitu mahalnya. Malah saya berniat tidak makan di warung makan itu lagi. Kapok. Ya, saya kapok makan nasi ikan harganya Rp6500. Apa mbak tadi salah dengar ya saya makan nasi ikan? Sampai sekarang saya masih ragu, apa benar nasi ikan di warung makan depan wartel Arjuna itu harganya segitu? Ah, sudahlah. Lain kali saya akan cari makan di warung makan tempat lain yang lebih murah dan tentunya enak. Selamat tinggal warung makan Arjuna. Saya kecawa lho…

Tower Air, Makan Bubur dan Jalan-jalan Pagi

tower air puskomSebuah tower air setinggi lebih dari 20 meter berdiri kokoh. Empat kaki besi tower penampung air itu memancang kuat ke tanah. Sejumlah pipa tegak lurus menghubungkan penampung air dari atas hingga ke bawah.

Kemarin pagi (Sabtu, 1/3), terdengar suara gemericik air bak hujan turun di bawah tower air itu. Tampak penampung air di tower itu penuh sehingga air tumpah ke tanah menyentuh sebuah kotak yang dilapisi plat besi. Mungkin itu pompa airnya. Saya tak memperhatikannya dengan jelas.

Tak seorang pun ada di sana pagi itu kecuali saya. Karena kebetulan pagi itu saya pulang dari jalan-jalan seputar Gedung Serba Guna (GSG) Unila. Masih terlihat agak sepi, meskipun ada beberapa orang di sana. Biasanya mereka ada yang sekedar duduk-duduk saja dan makan bubur ayam yang setiap akhir pekan ada di sana.

Saya makan bubur ayam di sana. Suasana sekitar itu tampak sejumlah orang berolahraga. Seperti di lapangan parkir, beberapa mahasiswa bermain futsal dengan teman-temannya. Mereka terlihat asik memainkan bola, lalu memindahkan ke temannya. Itu mereka lakukan untuk menjaga kekompakan agar bola dibawa hingga ‘menjebol’ gawang lawan.

Pagi itu hanya makan bubur ayam semangkok. Lalu, sambil ‘cuci mata’ saya jalan-jalan di sekitar GSG dan taman rusa. Ya, sekedar menghirup udara segar di pagi hari yang sejuk dan suasana indah kampus penuh dengan pepohonan yang hijau dan asri.