Sebuah tower air setinggi lebih dari 20 meter berdiri kokoh. Empat kaki besi tower penampung air itu memancang kuat ke tanah. Sejumlah pipa tegak lurus menghubungkan penampung air dari atas hingga ke bawah.
Kemarin pagi (Sabtu, 1/3), terdengar suara gemericik air bak hujan turun di bawah tower air itu. Tampak penampung air di tower itu penuh sehingga air tumpah ke tanah menyentuh sebuah kotak yang dilapisi plat besi. Mungkin itu pompa airnya. Saya tak memperhatikannya dengan jelas.
Tak seorang pun ada di sana pagi itu kecuali saya. Karena kebetulan pagi itu saya pulang dari jalan-jalan seputar Gedung Serba Guna (GSG) Unila. Masih terlihat agak sepi, meskipun ada beberapa orang di sana. Biasanya mereka ada yang sekedar duduk-duduk saja dan makan bubur ayam yang setiap akhir pekan ada di sana.
Saya makan bubur ayam di sana. Suasana sekitar itu tampak sejumlah orang berolahraga. Seperti di lapangan parkir, beberapa mahasiswa bermain futsal dengan teman-temannya. Mereka terlihat asik memainkan bola, lalu memindahkan ke temannya. Itu mereka lakukan untuk menjaga kekompakan agar bola dibawa hingga ‘menjebol’ gawang lawan.
Pagi itu hanya makan bubur ayam semangkok. Lalu, sambil ‘cuci mata’ saya jalan-jalan di sekitar GSG dan taman rusa. Ya, sekedar menghirup udara segar di pagi hari yang sejuk dan suasana indah kampus penuh dengan pepohonan yang hijau dan asri.