18 Dec

Telah berpulang Profesor Iskandar Alisjahbana

Sebuah offline message dari seorang kawan terlihat saat aku mengaktifkan email yahoo ku, bunyinya:

“Telah meninggal Bpk. Iskandar Alisjahbana, tanggal 16 Desember 2008 di RS. Borromeus Bandung. Dimakamkan di Tugu, Bogor”.

Innalillahi wainnailaihi rojiun,

Tahun 2008 ini kembali Indonesia kehilangan seorang tokoh, ilmuwan, pendidik sekaligus entreprenuer dalam diri Pak Is. Secara pribadi, aku memang tidak mengenal dekat beliau almarhum walaupun kelak beberapa kali aku sempat bertegursapa dan berkomunikasi via email. Tapi, sejak aku mampu mengidolakan seseorang, maka beliau termasuk orang-orang yang aku kagumi.

Ini dimulai dulu sekali sewaktu aku baru bisa membaca, dan aku membaca sebuah artikel di majalah ibuku tentang seorang dosen di ITB yang menjadi penggagas sebuah sistem komunikasi untuk Indonesia yang dikenal dengan Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) Palapa sebagai penghubung komunikasi seluruh wilayah nusantara. Aku, yang waktu itu keluarga kami bahkan belum mempunyai televisi, berpikir betapa pintar nya beliau.

Kekagumanku semakin bertambah, saat tau bahwa beliau adalah putra pertama seorang sastrawan besar angkatan Pujangga Baru, Sutan Takdir Alisyahbana. Bagaimana tidak, ayahnya sastrawan anaknya doktor elektro lulusan TU Darmstad Jerman. Dua bidang yang tidak nyambung sama sekali. Ditambah lagi saat mendengar cerita bahwa beliau di berhentikan dari posisinya sebagai Rektor ITB saat baru menjabat satu tahun (1977-1978) akibat pendiriannya yang mendukung mahasiswa progresif. Jaman itu mahasiswa progresif adalah musuh nomor satu pemerintah. Siapapun yang mendukungnya, juga akan dianggap musuh pemerintah. Begitulah, sang penggagas SKSD Palapa dipecat dari jabatan Rektor, tapi ini makin meningkatkan kekagumanku padanya.

Lama aku mencari-cari jejak beliau, saat orang-orang pintar di Kabinet Pembangunan dan lembaga-lembaga keilmuan terkemuka negeri saling silih berganti, tapi aku tidak pernah melihat namanya di posisi-posisi tersebut. Sampai tahun 1992, saat aku ke Bandung untuk mengikuti bimbingan belajar dan kost di Jl. Ciung Wanara No.4. Dari mahasiswa-mahasiwa ITB yang kost disitu, aku mendengar kembali khabar tentang Pak Iskandar Alisjahbana. “Dia itu lebih pintar dari Habibie”…demikian kata mahasiswa yang satu. “Dia mengajar di Hawaii dan Jerman” kata yang lain. Aku hanya jadi pendengar yang baik.

Belakangan setelah internet berkembang, maka aku semakin mudah mencari dan mendapatkan informasi tentang Pak Is. Aku berkenalan dengan beliau, saat menghadiri sebuah seminar di Jakarta. Disitu aku baru tau bahwa beliau adalah pendiri Pasifik Satelit Nusantara, sebuah perusahaan telekomunikasi yang berbasis satelit. Atas jasa beliau juga aku mendapatkan kontak dengan salah seorang engineer yang kelak membantu mahasiswa bimbingan ku yang sedang mengerjakan tugas akhirnya.

Pak Is juga dikenal sebagai penggagas entrepreneurship di perguruan tinggi (karena di ITB, istilahnya menjadi technopreneurship), yang mendorong kampus tidak hanya berkutat dengan academic sciences tapi juga coorporate sciences. Bagi beberapa kalangan, ide ini dianggap melanggar idealisme kampus, tapi belakangan terbukti bahwa ide beliau ini sedikit banyak diadopsi oleh PTN-PTN yang berstatus BHMN/BHP untuk men generate income.

Hal lain yang patut kita ingat dari Pak Iskandar adalah pendapatnya tentang Intellectual Property Right (IPR) dan COPYLEFT. “Meniru adalah halal demi untuk berkembang dan tumbuhnya kecerdasan manusia. Setiap manusia menjadi tumbuh dan cerdas dari hasil meniru, dari orang tuanya, guru-gurunya dan lingkungannya. Tiru meniru inilah yang menyebabkan meningkatkannya mutu budaya suatu bangsa” demikian menurut Pak Is.

Dalam hal kepemilikan (Property) Pak Iskandar membagi dua hal yaitu:
- HAK MILIK BENDA NYATA
- HAK MILIK BENDA INTELEKTUAL

Jika seseorang memiliki yang pertama dan ada orang lain mengambilnya, maka si empunya tidak lagi bisa menggunakannya. Tapi, jika seseorang  memiliki yang kedua, walau seribu bahkan jutaan orang pun mengambil dan memakainya, maka si empunya tetap akan bisa menggunakannya. Jika akibat pemakaian ini, bisa meningkatkan budaya suatu bangsa, betapa bermanfaatnya benda intelektual tersebut. Demikianlah kritik Pak Iskandar terhadap IPR, lebih jauh lagi terhadap globalisasi kapitalisme. Dan ini menunjukkan kepedulian dan dukungannya terhadap COPYLEFT Movement, GNU/GPL dan OSS. Sayang sekali, aku tidak berhasil mendapatkan surat yang beliau tulis ke Bill Gates, saat pemilik microsoft itu datang ke Indonesia.

Kini, sang penggagas dan pendidik itu telah tiada. Ibarat lakon, beliau tidak banyak muncul di atas panggung, tapi walaupun ada dibelakang layar, banyak individu-individu yang akan MENIRU tingkah dan teladannya. MENIRU adalah HALAL…bukan begitu prof???

Selamat jalan profesor, selamat menjumpai sang Khalik. Semoga Allah SWT akan selalu menempatkan ruh mu di tempat yang terbaik di sisiNya. Amin.

26 Nov

Paris van Perancis

Tepat jam 07:30 pesawat yang menerbangkanku dari Praha mendarat di Orly, salah satu airport Paris selain Charles de Gaulle. Hujan gerimis di akhir bulan September menyambutku. Memang ini bukan perjalanan pertama ku ke Paris, tapi mungkin ini kali pertama aku bisa menikmati kota ini, setelah sebelumnya hanya singgah untuk transit. Ada waktu sekitar 8 jam untuk menikmati Paris, yang terakhir kunikmati lewat buku dan film Da Vinci Code, sebelum melanjutkan perjalanku ke Toulouse.

Tak ada tetek bengek urusan bagasi, cuma sebuah tas ransel ala backpacker, mata ku mencari-cari counter SNCF (operator KA Perancis). Dengan waktu cuma 8 jam, akan lebih menghemat waktu jika aku bisa mereservasi tiket KA ke Toulouse, ketimbang harus melakukannya di Gare Montparnasse. Sebagai city airport, Orly memang tidak sebesar dan serumit  Charles de Gaulle, dengan mudah aku menemukan desk SNCF. Semua urusan reservasi tiket beres, tiket TGV Paris -Toulouse, Toulouse – Barcelona, dan Elipsos Barcelona – Paris sudah di tangan, maka tiba saat nya menjelajahi Paris. Hujan yang menderas tidak mengurangi bayangan dan ekspektasi ku akan Paris. Next point…. halte OrlyBus.

Ada 2 mode transportasi yang bisa digunakan dari bandara Orly ke city centre, dengan bus (OrlyBus atau AirFrance Bus) dan KA otomatis (OrlyVal). Aku lebih memilih OrlyBus, bukan hanya karena harga tiketnya yang lebih murah (6,1 euro vs. 9,3 euro sekali jalan), tapi terminal Orlybus lebih dekat ke pusat kota dan mudah dijangkau oleh mode transportasi dalam kota lainnya. Sebenarnya, bus Air France lebih terminalnya di pusat kota, tapi tiketnya lumayan bah, 12 euro. Dengan duit segitu, orang sudah bisa beli tiket transport di Praha untuk sebulan.

Perjalanan ke Denfert-Rochereau yang seharusnya ditempuh selama 30 menit, ternyata lebih lama. Entah kenapa, hujan di luar menyebabkan jalan, yang kupikir adalah jalan tol atau minimal semi highway, menjadi macet. Apa bedanya dengan Jakarta?? Hatiku ngedumel sendiri, soalnya dengan waktu yang terbatas ini, aku harus bisa mengunjungi tempat-tempat yang sudah kurencanakan. Macet ini bisa membuyarkan semua rencana, bahkan bisa-bisa aku ketinggalan kereta ke Toulouse. 55 Menit…busyet, aku tiba di Denfert-Rochereau. Tanpa ba..bi..bu aku langsung mencari tempat pembelian tiket transportasi terpadu, tapi alamaak  kok pake ngantri segala?? Tidak mesti ngantri sih, karena bisa beli tiket lewat ticket machine, tapi aku tak punya koin euro, semuanya kertas… 15 menit ngantri aku berhasil membeli tiket transport 24 jam untuk Paris..aman lah.. Tapi tiba-tiba aku mendengar ada orang yang sepertinya memanggilku, Adriaaan!!!

Ternyata yang memanggil adalah Seb. Sebastian adalah kolegaku, memang sebelumnya aku pernah cerita akan ke Paris. Tapi aku tidak mengharapkan dia akan mengantarku keliling Paris. Tahun lalu dia ke Praha, dan aku menjadi city guide nya. Dia berjanji akan mengantarku  jika satu waktu aku ke Paris. Dua hari sebelumnya aku mengontaknya, tapi bukan maksudku untuk memintanya jadi city guide. Jujur saja aku lebih senang exploring sendiri, dengan guide book di tangan, akan jadi tantangan sendiri untuk tidak kesasar. “Bonjour Adrian..” demikian Seb, ah..aku selalu senang mendengar orang Perancis berbicara bahasa Inggris, aksen French nya menjadikan tuturan English jadi kedengaran sangat merdu. “Seb, senang bisa ketemu kamu di sini, Bienvenue à Paris” kata ku…huahhaa kami tertawa. Next point… Champs de Mars…menara Eiffel.

Sampailah aku di menara yang sangat terkenal ini, hujan tidak juga berhenti, tak banyak yang bisa kulakukan di lokasi menara, selain terdapat aktivitas perbaikan menara disana-sini, aku cukup terganggu dengan banyaknya penjual cendera mata illegal (di Jakarta kita menyebutnya pedagang asongan),  kebanyakan dari mereka kuturunan Afrika. Semangat sekali mereka menawarkan dagangannya, lebih mirip intimidasi..hhehee. Dan lebih semangat lagi mereka melarikan diri, saat beberapa polisi bersepeda datang mengejar mereka. Inilah hal yang menarik yang kulihat. Sebelumnya, ada hal lain yang juga menarik yaitu saat di dalam metro (subway), inilah kali pertama aku melihat orang mengamen. Wahh rasanya sudah seperti di dalam KRL Bekasi-Kota. Suasana semakin lengkap ketika kulihat beberapa gadis muda, hilir mudik kesana kemari dengan sepotong kertas karton bertulisan…ya cara lain dari mengemis. Untuk satu saat, ekspektasiku terhadap Paris sedikit menurun.

Setelah menikmati Eiffel dan Parc du Champs de Mars, aku dan Seb berjalan ke Palais de Chaillot yang terletak persis di seberang Eiffel, melintasi sungai Seine. Dari sini, kita dapat menikmati the best view of Eiffel, beberapa foto aku ambil di sini. Palais de Chaillot ini terletak di bukit Trocadero, dimana dulu Perancis dan pemberontak dari Spanyol pernah berperang hebat (jadi ingat cerita battle of trocadero). Menaiki undakan-undakan tangga ke Chaillot memang bikin ngos-ngosan, tapi pemandangan ke Champs de Mars dan Chaillot, dengan kolam-kolam biru dengan angsa-angsa dan burung-burung nya, cukup membayar sesak napas tadi. Setelah puas klak-klik sana sini, next point… Champs d’Elysees.

Dari Trocadero kami naik metro ke FDR metro station, dari sini kami keluar dan jalan kaki menyusuri Champs d’Elysees. Jalan ini adalah jalan lurus yang menghubungkan circle Charles de Gaulle – Etoille dan Place de la Concorde terus ke Jardin des Tuileries dimana museum Louvre yang terkenal itu berada. Nama lengkapnya Avenue Champs d’Elysees…mungkin adalah tempat yang paling terkenal di dunia, dan memang dalam tiga puluh menit berjalan disana, rasanya aku telah berpapasan dengan beberapa orang yang wajah nya cukup familiar… ketemu di mana ya?? siapa namanya ya??  Tapi aku tidak berminat memeras otak ku untuk mengingat nama-nama orang terkenal, bintang film sekaligus nama-nama film nya.. aku lebih senang mendengar celotehan Seb tentang Champs d’Elysees. Disini aku juga melihat hal-hal menarik, banyak sekali tentara (yang ku yakin dari pasukan antiteror, melihat onderdil yang dibawanya), lalu lalang hilir mudik. Macam mau perang saja..pikir ku. Tapi aku tak bertanya lebih detail ke kawan Perancis ku ini. Dan kehadiran tentara, tentu saja membuat tak nyaman, apalagi saat kulihat mereka memeriksa sekelompok orang.

Hari sudah jam sebelas lewat, dan hujan masih terus mengguyur. Aku sebenarnya sangat ingin mampir ke Louvre, atau paling tidak de la Concorde untuk melihat Obelisk, tapi kami berjalan kearah sebaliknya ke circle CDG. Tapi karena hujan semakin deras, Sep mengajakku mampir ke cafe..George V. “Seb, tak bisakah ke french cafe?? ini pasti ala Inggris” tanyaku, dan ia menjawab “lihat saja, kamu akan mendapatkan sentuhan paris disini”… dan benar saja…menurutnya sentuhan paris, tapi beneran aku tak bisa membedakannya, soalnya aku memesan minuman moccacino hangat ala Italia dan disuguhi berbagai croissants, yang rasanya tak beda dengan yang di Praha.

Hujan telah agak mereda saat jam menunjukkan pukul satu siang, aku harus segera ke Montparnasse, kereta ke Toulouse berangkat jam 14:10, tibalah saat kami berpisah. Seb berkeras untuk mengantarku ke stasiun Gare Montparnasse dan aku juga berkeras untuk jalan sendiri. Setelah mengucapkan salut, kami pun berpisah. Aku menyempatkan diri ke de la Concorde. Tapi waktu sudah sangat mendesak, setelah berganti-ganti metro, akhirnya aku tiba di Montparnasse.

Kereta TGV ke Toulouse telah nongkrong di platform 5, penumpang sudah berjubel menunggu di depan pembatas pemeriksa karcis. 20 menit sebelum berangkat, portal pembatas dibuka, setelah terlebih dahulu memvalidasi tiket, aku pun naik ke kereta. Duduk nyaman menunggu berangkat. Tak banyak yang bisa kunikmati selama sekitar 6 jam di Paris..tentu saja. Selain hujan, dan berbagai kondisi, Paris tidak seperti yang ku bayangkan, tapi tetap berkesan. “Ah..aku masih ada waktu untuk menikmati Paris saat pulang dari Barcelona nanti”, demikian kataku dalam hati. Tepat jam 14:10 kereta bergerak…. Next story….Toulouse……

12 Mar

BOZP…3x boss!!

Bezpečnost a ochrana zdraví při práci atau BOZP adalah bahasa cesky untuk perlindungan atas kesehatan dan keselamatan kerja. Dalam bahasa Inggris ini lebih dikenal dengan Occupational Safety and Health Protection (OSHA).

Di Universitas dimana saya studi sekarang, setiap mahasiswa baru, peneliti, dosen atau pekerja lainnya wajib mengikuti tes BOZP ini sebelum mereka menggunakan fasilitas laboratorium, research centre, atau testing centre milik universitas. Ujian dilakukan terjadwal, setiap semester baru. Hari ini istri saya mengikuti ujian BOZP tersebut. Tadinya kami tidak tau, bahwa ada keharusan untuk mengikuti ujian BOZP ini. Supervisornya mengingatkan dia tentang ujian ini. “Coba tanya ardian bagaimana prosedurnya mengikuti ujian BOZP”, begitu kata sang supervisor, seakan-akan saya sudah punya pengalaman.

Halahh… saya gak ngerti apa itu BOZP…karena saya tidak pernah mengikuti nya…naahh dari sini kehebohan mulai terjadi. Tidak ada yang sadar setelah hampir dua tahun saya bekerja di research centre universitas, ternyata saya belum pernah mengikuti ujian BOZP tersebut. Padahal selama itu pula saya menggunakan berbagai fasilitas R&D, bisa akses kemana-mana termasuk ruangan switching yang tidak semua orang bisa memasukinya…huahahhaaaa… Bayangkan dua tahun tanpa sertifikat OSHA.

Akhirnya, hari ini saya mengikuti juga ujian tersebut…sulit-sulit gampang..kita diberi sekitar 60 pertanyaan yang mesti dijawab. Test dilakukan secara online. Kita tidak ikut dalam “kelas reguler” bersama-sama peserta lain. Kita juga di berikan tip dan trik menjawab soal-soal tersebut….heheheee kayak  ujian tulis SIM lah….Istri saya berhasil lulus dalam sekali percobaan….

Selanjutnya giliran saya…gampang lah (kan udah tau trik-trik nya…hehhe), setelah semua soal dijawab, …astaganagakesiangan.. hasilnya FAILED… tidak lulus. Terpaksa deh ngulang lagi… kali ini lebih teliti lah.. gak sok-sok an lagi. Dan hasilnya…well done berhasil lulus. Okeh..tinggal print lah, klak-klik sana-sini kok gak keluar-keluar print out nya, apa pasal? Setelah tanya ke teknisi..alamaak ternyata lupa setting network printernya. Dan celakanya, hasil test tersebut tidak tersimpan secara digital dalam bentuk file. Terpaksa melakukan ujian yang ketiga kalinya…wkakaka.

Sekali ini, tidak boleh ada kesalahan sekecil apapun..dan dengan tekad membara (boong, yang betul udah bosaaan kali) akhirnya ujian bisa di print dan disertifikasi. Supervisor dan istri saya cuma senyam-senyum aja ketika tau saya melakukan tiga kali ujian… hehehehe senior tapi tiga kali ujian BOZP.

11 Mar

Sumber Daya Hayati – pentingkah ??

Saya bukan seorang saintis, pengamat atau ahli dalam bidang biodiversity atau sumber daya hayati yang beraneka-ragam itu.  Saya, mungkin kita semua sadar, bahwa negeri kita teramat kaya akan sumber daya hayati. Tapi sudah kah kita mengelolanya dengan baik dan benar?

Adalah sangat menarik untuk dicermati, bahwa organisasi perlindungan hak atas kekayaan intelektual dunia (World Intellectual Property Organisation – WIPO) akan menjamin dan melindungi aspek-aspek Sumber Daya Hayati (SDH). Ini yang mengemuka dalam sidang Forum Asia Afrika untuk Hak Kekayaan Intelektual dan Sumber Daya Genetik, Pengetahuan Tradisional dan ekspresi Budaya di Bandung pertengahan tahun 2007 yang lalu. Ini menarik perhatian saya, karena sebelumnya saya secuil pun tidak sadar dan insyaf akan pentingnya perlindungan HAKI atas SDH. Tapi setelah membaca berita bagaimana Menteri Kesehatan Saadilah Supari begitu tegas mempertahankan virus H5N1 varian Indonesia, ditambah issue-issue pengklaiman lagu daerah, motif batik dan lain-lain oleh negara tetangga, saya tersadar betapa selama ini tidak pernah terpikir oleh kita untuk melindungi dan melestarikan keaneka ragaman sumber daya hayati yang begitu beraneka-ragam di negeri ini.

Mungkin kekhawatiran diatas tidak benar sepenuhnya , karena sebenarnya kearifan lokal (local wisdom) dan peraturan adat sudah menjaga dan memelihara segala bentuk sumber daya hayati. Hanya saja, berbagai kepentingan (terutama kepentingan ekonomi), perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kebutuhan hidup manusia, secara perlahan-lahan telah merubah, bahkan merusak kelestarian sumber daya hayati ini.

Hal lain yang menggelitik pikiran saya adalah pembagian/pendefinisian Sumber Daya Hayati menjadi tiga aspek yaitu Sumber Daya Genetik, Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya. Apakah memang begitu pembagiannnya? Apakah hal ini hanya untuk mempermudah pengklasifikasian, yang pada akhirnya akan mempermudah perlindungan HAKI nya?

Jika akan dilindungi melalui mekanisme WIPO, tentu sebuah niat yang baik. Tapi pertanyaan berikutnya, siapa yang akan mengajukan HAKI ini? Apakah orang-perorang, masyarakat adat, lembaga adat, pemerintah atau negara? Selanjutnya untuk siapa perlindungan yang hendak di bangun oleh WIPO ini?

Aduuhhh banyak sekali pertanyaan saya yang membutuhkan jawaban. Mungkin ada diantara pembaca yang bisa menjelaskan?

Satu hal lain yang tidak kalah penting adalah, sudahkah kita mengetahui apa-apa saja Sumber Daya Hayati kita? Apakah kita telah melakukan penelitian, pengklasifikasian, invetarisir dan mendokumentasikannya secara baik? Jika belum, siapa leading sector yang bertanggung jawab terhadap ini semua? Saya sangat tidak tertarik jika mendapat jawaban bahwa “ini adalah tanggung jawab kita bersama”. Betul bahwa kita harus sadar, tapi ini bukan pekerjaan ringan yang bisa dilakukan sambil lalu. Dan saya pikir, Universitas sebagai tempat berkumpulnya para pakar dan berkepentingan langsung terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, dan pemberdayaan masyarakat sudah semestinya berinisiatif melakukan kegiatan inventarisir ini.

Unila, sebagai universitas besar di Lampung, mungkin bisa berinisiatif  dalam kegiatan inventarisir Sumber Daya Hayati di Lampung. Inventarisir tidak hanya mengumpulkan, tapi juga mengklasifikasikan dan mendokumentasikan, bila perlu secara elektronik dengan sistem basis data yang online. Sehingga, setiap bentuk Sumber Daya Genetik, Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya yang ada di Lampung dapat terdokumentasikan dengan baik. Jika semua daerah melakukan yang hal yang sama, maka satu saat akan terbangun pusat dokumentasi Sumber Daya Hayati Nasional.

Ini bukan pekerjaan mudah dan gampang, tapi penting untuk segera diinsyafi dan dilakukan. Jika tidak, mungkin dalam waktu yang tidak lama kita akan mendengar ada HAKI atas Tapis oleh seseorang di China sana. Akan ada klaim pemilikan “teripang” oleh lembaga riset kelautan di Kanada sana. Klaim atas “virus A”, “bakteri B”, “jamur C” dan lain-lain. Padahal semua itu ada di bumi kita, milik kita, hasil warisan generasi terdahulu. Akan kah kita menunggu semua ini terjadi? Semoga tidak !

07 Mar

“Quote of the day” (Tan Malaka)

“Kalau Indonesia tidak merdeka, maka ilmu pengetahuan akan terbelenggu. Semua negara merdeka sekarang menasionalkan, merahasiakan penemuan, guna dipakainya sendiri untuk persaingan dalam perniagaan atau peperangan! Saintis (ilmuwan) Indonesia, janganlah bermimpi akan bisa leluasa berkembang selama pemerintah Indonesia dikemudikan, dipengaruhi, atau diawasi oleh negara lain berdasarkan kapitalisme, negara apapun juga di bawah kolong langit ini. Kemerdekaan sains itu sehidup dan semati dengan kemerdekaan negara. Begitu juga kemerdekaan sains bagi satu kelas, sehidup dan semati dengan kemerdekaan kelas itu”

(Tan Malaka, dalam MADILOG)