Telah berpulang Profesor Iskandar Alisjahbana
Sebuah offline message dari seorang kawan terlihat saat aku mengaktifkan email yahoo ku, bunyinya:
“Telah meninggal Bpk. Iskandar Alisjahbana, tanggal 16 Desember 2008 di RS. Borromeus Bandung. Dimakamkan di Tugu, Bogor”.
Innalillahi wainnailaihi rojiun,
Tahun 2008 ini kembali Indonesia kehilangan seorang tokoh, ilmuwan, pendidik sekaligus entreprenuer dalam diri Pak Is. Secara pribadi, aku memang tidak mengenal dekat beliau almarhum walaupun kelak beberapa kali aku sempat bertegursapa dan berkomunikasi via email. Tapi, sejak aku mampu mengidolakan seseorang, maka beliau termasuk orang-orang yang aku kagumi.
Ini dimulai dulu sekali sewaktu aku baru bisa membaca, dan aku membaca sebuah artikel di majalah ibuku tentang seorang dosen di ITB yang menjadi penggagas sebuah sistem komunikasi untuk Indonesia yang dikenal dengan Sistem Komunikasi Satelit Domestik (SKSD) Palapa sebagai penghubung komunikasi seluruh wilayah nusantara. Aku, yang waktu itu keluarga kami bahkan belum mempunyai televisi, berpikir betapa pintar nya beliau.
Kekagumanku semakin bertambah, saat tau bahwa beliau adalah putra pertama seorang sastrawan besar angkatan Pujangga Baru, Sutan Takdir Alisyahbana. Bagaimana tidak, ayahnya sastrawan anaknya doktor elektro lulusan TU Darmstad Jerman. Dua bidang yang tidak nyambung sama sekali. Ditambah lagi saat mendengar cerita bahwa beliau di berhentikan dari posisinya sebagai Rektor ITB saat baru menjabat satu tahun (1977-1978) akibat pendiriannya yang mendukung mahasiswa progresif. Jaman itu mahasiswa progresif adalah musuh nomor satu pemerintah. Siapapun yang mendukungnya, juga akan dianggap musuh pemerintah. Begitulah, sang penggagas SKSD Palapa dipecat dari jabatan Rektor, tapi ini makin meningkatkan kekagumanku padanya.
Lama aku mencari-cari jejak beliau, saat orang-orang pintar di Kabinet Pembangunan dan lembaga-lembaga keilmuan terkemuka negeri saling silih berganti, tapi aku tidak pernah melihat namanya di posisi-posisi tersebut. Sampai tahun 1992, saat aku ke Bandung untuk mengikuti bimbingan belajar dan kost di Jl. Ciung Wanara No.4. Dari mahasiswa-mahasiwa ITB yang kost disitu, aku mendengar kembali khabar tentang Pak Iskandar Alisjahbana. “Dia itu lebih pintar dari Habibie”…demikian kata mahasiswa yang satu. “Dia mengajar di Hawaii dan Jerman” kata yang lain. Aku hanya jadi pendengar yang baik.
Belakangan setelah internet berkembang, maka aku semakin mudah mencari dan mendapatkan informasi tentang Pak Is. Aku berkenalan dengan beliau, saat menghadiri sebuah seminar di Jakarta. Disitu aku baru tau bahwa beliau adalah pendiri Pasifik Satelit Nusantara, sebuah perusahaan telekomunikasi yang berbasis satelit. Atas jasa beliau juga aku mendapatkan kontak dengan salah seorang engineer yang kelak membantu mahasiswa bimbingan ku yang sedang mengerjakan tugas akhirnya.
Pak Is juga dikenal sebagai penggagas entrepreneurship di perguruan tinggi (karena di ITB, istilahnya menjadi technopreneurship), yang mendorong kampus tidak hanya berkutat dengan academic sciences tapi juga coorporate sciences. Bagi beberapa kalangan, ide ini dianggap melanggar idealisme kampus, tapi belakangan terbukti bahwa ide beliau ini sedikit banyak diadopsi oleh PTN-PTN yang berstatus BHMN/BHP untuk men generate income.
Hal lain yang patut kita ingat dari Pak Iskandar adalah pendapatnya tentang Intellectual Property Right (IPR) dan COPYLEFT. “Meniru adalah halal demi untuk berkembang dan tumbuhnya kecerdasan manusia. Setiap manusia menjadi tumbuh dan cerdas dari hasil meniru, dari orang tuanya, guru-gurunya dan lingkungannya. Tiru meniru inilah yang menyebabkan meningkatkannya mutu budaya suatu bangsa” demikian menurut Pak Is.
Dalam hal kepemilikan (Property) Pak Iskandar membagi dua hal yaitu:
- HAK MILIK BENDA NYATA
- HAK MILIK BENDA INTELEKTUAL
Jika seseorang memiliki yang pertama dan ada orang lain mengambilnya, maka si empunya tidak lagi bisa menggunakannya. Tapi, jika seseorang memiliki yang kedua, walau seribu bahkan jutaan orang pun mengambil dan memakainya, maka si empunya tetap akan bisa menggunakannya. Jika akibat pemakaian ini, bisa meningkatkan budaya suatu bangsa, betapa bermanfaatnya benda intelektual tersebut. Demikianlah kritik Pak Iskandar terhadap IPR, lebih jauh lagi terhadap globalisasi kapitalisme. Dan ini menunjukkan kepedulian dan dukungannya terhadap COPYLEFT Movement, GNU/GPL dan OSS. Sayang sekali, aku tidak berhasil mendapatkan surat yang beliau tulis ke Bill Gates, saat pemilik microsoft itu datang ke Indonesia.
Kini, sang penggagas dan pendidik itu telah tiada. Ibarat lakon, beliau tidak banyak muncul di atas panggung, tapi walaupun ada dibelakang layar, banyak individu-individu yang akan MENIRU tingkah dan teladannya. MENIRU adalah HALAL…bukan begitu prof???
Selamat jalan profesor, selamat menjumpai sang Khalik. Semoga Allah SWT akan selalu menempatkan ruh mu di tempat yang terbaik di sisiNya. Amin.


Posted in

